SOSOK

Badah Sari, Viral Bangun 3 rumah Ibadah di SMA 2

54
×

Badah Sari, Viral Bangun 3 rumah Ibadah di SMA 2

Sebarkan artikel ini
Badah Sari dengan tiga rumah ibadah yang berhasil dibangunnya di lingkungan SMAN 2 Palangka Raya

“Pernah Halau Kejadian Intoleransi di Lingkungan Sekolah

PALANGKA RAYA/tabengan.co.id – Baru-baru ini Media Sosial (medsos), munculnya kabar yang viral masyarakat Indonesia, terkait seorang Kepala Sekolah (Kepsek) dari Kalteng yang berani menyuarakan kebenaran serta menghalau kejadian intoleransi di lingkungan sekolahnya. Seperti yang muncul di Facebook (FB), sebuah akun bernama Indonesia zaman dulu,  yang memposting sebuah cerita dari akun lainnya, tentang seorang kepsek dari salah satu SMA negeri di Palangka Raya, yang menghalau protes warga setempat, terhadap kegiatan ibadah di gereja maupun pura, di lingkungan sekolah terkait.

Terkait itu, Tabengan mengkonfirmasi secara langsung melalui telepon seluler Badah Sari, Senin (1/11). Ketika dikontak, Badah yang saat ini sudah pensiun, mengakui kejadian itu terjadi ketika dirinya masih menjabat sebagai Kepsek di SMAN 2 Palangka Raya. “Itu sudah lama dan saya baru tahu kalau hal ini viral lagi. Memang dulu sempat rame juga,” ujarnya ketika dihubungi

Dituturkannya, ketika menjabat sebagai kepsek, Badah prihatin melihat para siswa yang kadang berdesakan hingga bergantian kelas, pada bidang studi agama Kristen serta Hindu. Memang, ujarnya, di SMAN 2 Palangka Raya sudah lama berdiri sebuah musholla yang dimanfaatkan untuk keperluan pelajaran agama Islam, Salat hingga kegiatan peribadatan lainnya.  Namun tidak ada yang namanya gereja dan pura, yang mana sebagian murid di sekolah itu banyak juga yang beragama Kristen dan Hindu.

Menindaklanjuti itu, dirinya bersepakat bersama jajaran sekolah merenovasi beberapa bangunan kosong, untuk dijadikan gereja mini ataupun pura. “Saya selalu mengajarkan kepada siswa-siswi dalam memperkuat toleransi antar sesama. Karena di sekolah itu, murid-muridnya memiliki agama yang beragam,” ujar wanita kelahiran Tangkahen Kabupaten Pulang Pisau pada 1960 silam tersebut. Rencana itu tampaknya berjalan lancar, karena lingkungan SMAN 2 Palangka Raya, telah memiliki tiga rumah peribadatan yaitu Musholla, Gereja dan Pura.

Selang berjalan beberapa waktu, berbagai kegiatan ibadah dilakukan secara rutin oleh para siswa di sekolah yang beralamatkan Jalan KS Tubun Kota Palangka Raya tersebut. Termasuk gereja yang biasanya beribadah dengan paduan suara serta alunan musik. Dikala itu, Badah sudah kerap mendengar kabar atau isu diluar, yang mana warga setempat ada yang keberatan dengan suara-suara yang ditimbulkan kegiatan ibadah terkait. Ternyata memang benar, sejumlah warga sekitar datang menemui dirinya untuk menyampaikan keberatan, dengan alasan ibadah di gereja mini itu bikin ribut.

“Mereka keberatan dan bilang bikin ribut, tapi saya berikan mereka pemahaman bahwa kita ini hidup di NKRI, dengan beragam agama serta suku, tanpa harus membeda-bedakan. Saya juga sempat berikan perumpamaan, yaitu seperti agama kita (Islam), di masjid kan juga sering mikrophone (adzan, pengajian atau lainnya) terdengar kemana-mana, apa ada yang protes,” ujar Badah. Mendengar penjelasan Badah Sari itu, sejumlah warga itu akhirnya memahami dan memilih diam serta pamit untuk pulang.  Sejak kejadian itu, ucapnya, tidak ada lagi terdengar kabar atau isu, terkait keberatan warga terhadap keberadaan gereja atau pura beserta peribadahannya.

Saat ini, ujarnya, ketiga rumah ibadah itu masih berdiri di lingkungan SMAN 2 Palangka Raya, sebagai simbol toleransi antar sesama pemeluk agama. Sejak pensiun dari dunia pendidikan 2020 silam yang mana terakhir menjabat sebagai Kepsek di SMAN 1 Palangka Raya, Badah sendiri masih sangat dikenal dekat dengan para siswa serta guru-guru.didin rakhmadin

Respon (4)

  1. Terimakasih Ibu Badah Sari atas sumbangsih Ibu yang sangat besar kepada Negara Kesatuan Republic Indonesia

Tinggalkan Balasan ke Manat Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *