PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) menggelar High Level Meeting Provinsi Kalimantan Tengah, Kamis (25/8). Pada kesempatan tersebut, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalteng Magfur memaparkan, pandemi dan tensi geopolitik Rusia-Ukraina berdampak penurunan ekonomi dan peningkatan inflasi.
Disebutkan Magfur, tensi geopolitik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan diikuti kenaikan inflasi yang tinggi, akibat gangguan rantai pasokan dan direspons oleh berbagai bank sentral, khususnya di negara maju dengan menaikkan suku bunga kebijakan lebih ketat. Berdampak pada risiko menurunnya perekonomian dunia lebih lanjut dan meningkatkan terjadinya risiko stagflasi.
Magfur menerangkan, IMF pada Juli 2022 kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia untuk kedua kalinya dari 4,4 persen menjadi 3,2 persen. Sementara AS mengalami kontraksi 0,9 persen pada Tw.II-2022.
Namun demikian, kata dia, yang perlu disyukuri adalah ekonomi Indonesia tumbuh impresif. Ekonomi Indonesia pada Tw.II-2022 tetap tumbuh impresif sebesar 5,44 persen (yoy), ditopang konsumsi RT seiring meningkatnya aktivitas belanja kelompok masyarakat karena adanya momen Hari Raya Lebaran.
Adapun konsumsi pemerintah terkontraksi sebesar 5,24 persen (yoy) seiring penurunan belanja barang untuk penanganan Covid-19 dan PEN. Investasi tumbuh melambat, sementara net ekspor tumbuh ditopang permintaan dari mitra dagang dan harga komoditas yang baik.
Dari sisi lapangan usaha perbaikan hampir terjadi pada seluruh sektor, khususnya industri, pertambangan, transportasi. Perbaikan ekonomi diperkirakan berlanjut, kinerja ekspor tetap impresif dan tumbuh tinggi. Sementara itu, inflasi Indonesia pada Juli 2022 tetap terjaga di tengah tekanan inflasi global akibat krisis pangan dan energi. Inflasi inti tercatat sebesar 2,86 persen (yoy) masih berada pada kisaran, meski tekanan yang bersumber dari komoditas bergejolak dan diatur pemerintah meningkat.
Lebih lanjut Magfur menjelaskan, terjadi penurunan inflasi Kalteng pada Juli 2022. Inflasi Kalteng menurun 0,44 persen (mtm) dengan sumbangan Volatile Food (VF) 0,10 persen, Core Inflation (CI) 0,14 persen dan Administered Price (AP) 0,20 persen.
Kenaikan harga angkutan udara menyumbang 0,15 persen inflasi Juli akibat kenaikan harga avtur di tengah masih terbatasnya frekuensi penerbangan.
“Bawang merah dan beras juga turut menyumbang, seiring tingginya curah hujan di sentra produksi Jawa,” bebernya.
Sedikitnya ada 5 besar komoditas penyumbang inflasi bersumber dari Volatile Food (VF) dan Administered Price (AP) seperti tarif angkutan udara, bawang merah, beras dan ikan tongkol dan ikan nila.
Sementara itu, kenaikan tarif PDAM dan rumah sakit di Sampit berdampak pada kenaikan laju inflasi Sampit dan Kalteng lebih tinggi. Andil tarif PDAM pada Oktober 2021 berdampak 42 persen terhadap inflasi Sampit dan 22 persen terhadap inflasi Kalteng, dan berangsur menurun hingga Juni 2022 masing-masing sebesar 23 persen dan 10 persen.
“Sebagian besar komoditas inflasi naik akibat perang Rusia-Ukraina, berdampak pada kenaikan harga energi yang mendorong kenaikan harga bahan bakar rumah tangga dan transportasi,” paparnya.
Proteksionisme pangan juga bertransmisi pada harga komoditas global secara umum. Di dalam negeri, penyesuaian harga oleh pemerintah, keterbatasan pasokan akibat peningkatan harga bahan baku (pupuk, harga pakan), pencabutan subsidi dan HET migor, berdampak pada tingginya inflasi VF dan AP.
Pada akhir Juli hingga minggu keempat Agustus, beberapa komoditas utama VF mengalami kenaikan, beras (utamanya beras dengan kualitas premium/beras lokal) seiring berakhirnya panen, serta AP berupa angkutan udara dan bahan bakar rumah tangga seiring dengan masih tingginya harga komoditas tersebut di pasar global.
Daging ayam, bawang putih, aneka cabai mulai mengalami normalisasi seiring dengan peningkatan pasokan dan penurunan permintaan. Sementara itu upaya pemerintah pusat untuk menurunkan harga minyak goreng telah membuahkan hasil.
Pada kesempatan itu, Bank Indonesia memberikan arahan umum, bahwa Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat sinergi di pusat dan daerah dalam menjaga stabilitas harga dan meningkatkan ketahanan pangan, sehingga mendukung daya beli masyarakat dan pemulihan ekonomi nasional.
Sedangkan sebagai arahan khusus, antara lain memperkuat identifikasi sumber tekanan inflasi di daerah melalui pemanfaatan data makro dan mikro. Data detail, memperluas kerja sama antar-daerah (KAD) guna mengurangi disparitas pasokan dan harga antar-wilayah.
TPIP dan TPID perlu mengidentifikasi wilayah surplus dan defisit serta menjadi fasilitator untuk mendorong KAD dalam pengendalian inflasi. Menurunkan biaya transportasi dengan memanfaatkan fasilitasi distribusi perdagangan antar-daerah dan termasuk menurunkan harga tiket pesawat dengan menambah jumlah pesawat.
Kemudian mengoptimalkan penggunaan anggaran belanja tidak terduga untuk mendukung upaya pengendalian inflasi daerah. Mempercepat penyerapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Magfur juga menambahkan, bersamaan dengan pelaksanaan operasi pasar murah komoditas bawang merah, BI Kalteng bekerja sama dengan Pemko Palangka Raya melakukan launching Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan “Sekuyan Lombok”.
Gerakan ini dilakukan dengan cara membagikan 1.000 bibit cabai secara gratis kepada masyarakat. Gerakan ini didasari adanya defisit cabai di Kalteng. Per tahunnya kebutuhan cabai mencapai 5.000 ton sedangkan kemampuan produksi hanya 1.000 ton per tahun.
“Gerakan ini diharapkan dapat direplikasi kembali di seluruh daerah dengan harapan dapat menekan potensi dorongan inflasi dari komoditas pangan bergejolak (cabai). Pendanaan gerakan ini dapat menggunakan anggaran Belanja Tak Terduga sesuai arahan Presiden dan Kemendagri melalui SE No 500/4825/SJ,” terangnya.
Berbagai faktor terus membayangi tekanan harga. Hal ini perlu direspons cepat oleh TPID untuk menjaga daya beli masyarakat. Dalam rangka penguatan stabilisasi harga pada jangka pendek, dapat diselenggarakan operasi pasar untuk bawang merah dan cabai rawit serta mendorong masyarakat untuk menanam cabai di pekarangan.
Pada jangka panjang, perlu didorong pergerakan struktural ke arah peningkatan pasokan. Hal ini dapat diwujudkan melalui KAD bersama daerah sentra penghasil komoditas pangan untuk menjamin ketersediaan pasokan. Selain itu, juga dapat didorong pendirian sentra-sentra komoditas yang persisten menyumbang inflasi, khususnya pada kelompok VA (pangan bergejolak). dsn











