-
Spirit Kalteng

Gambut, Potensi Ekologis yang Bisa Mensejahterakan

56
×

Gambut, Potensi Ekologis yang Bisa Mensejahterakan

Sebarkan artikel ini
TABENGAN/ISTIMEWA DIALOG - Senator Kalteng, Agustin Teras Narang, berdialog dengan Kepala Taman Nasional Sebangau, Andi Muhammad Kadhafi, dalam kunjungannya ke Palangka Raya, beberapa waktu lalu di Palangka Raya. Agenda yang menjadi dialog adalah bagaimana pengelolaan gambut yang ada di TNS, mampu mensejahterakan masyarakat dengan potensi yang dimiliki.
-
TABENGAN/ISTIMEWA
DIALOG – Senator Kalteng, Agustin Teras Narang, berdialog dengan Kepala Taman Nasional Sebangau, Andi Muhammad Kadhafi, dalam kunjungannya ke Palangka Raya, beberapa waktu lalu di Palangka Raya. Agenda yang menjadi dialog adalah bagaimana pengelolaan gambut yang ada di TNS, mampu mensejahterakan masyarakat dengan potensi yang dimiliki.

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Senator Kalimantan Tengah (Kalteng), Agustin Teras Narang, dalam kunjungan ke Kalteng melakukan berbagai kegiatan seperti dialog, ataupun turun langsung ke lapangan bertemu masyarakat selalu memberikan masukan yang semuanya bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial adalah dua hal yang selalu disuarakan.

Potensi kesejahteraan yang kembali disampaikan, adalah masalah gambut yang ada di Kalteng. Potensi ekologis ini disampaikan pada saat bertemu dengan Kepala Taman Nasional Sebangau, (TNS), Andi Muhammad Kadhafi, beberapa waktu lalu di Palangka Raya. Gambut memang memberikan tantangan hebat saat musim kemarau, dimana berpotensi sebagai penyebab kabut asap, akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pertemuan dengan Kepala TNS Andi Muhammad Kadhafi, Teras Narang, dipaparkan potensi, tantangan, dan impian pengembangan kawasan yang merupakan tempat bagi biodiversitas gambut. Gambaran umum gambut, gambut Indonesia merupakan terbesar di dunia setelah Brasil. Dimana, luas lahan gambut Indonesia mencapai 22,5 juta hektar. Jumlah ini mampu menyerap 30 persen karbon dunia.

Tokoh Kalteng yang dikenal dengan program Kalteng Harati dan Kalteng Barigas ini, menyampaikan, luas gambut Kalteng itu terbesar kedua setelah Papua. Bukan tidak mungkin akan menjadi pemilik gambut terluas di Indonesia, ketika adanya pemekaran di provinsi Papua.

Dikolaborasikan upaya pengelolaan kawasan untuk kesejahteraan masyarakat, termasuk pencegahan kebakaran lahan yang selalu jadi tantangan di wilayah kita. Ada 39 desa, yang terdiri atas 30 desa asli, dan 9 desa transmigrasi yang dilibatkan dalam kolaborasi ini, Ini adalah potensi ekologis yang mestinya bisa di kembangkan dan pada saatnya bermanfaat dalam pemeliharaan lingkungan, serta menjadi daya tarik bagi para peneliti, pendidikan, dan wisata,” kata Teras Narang, saat menyampaikan hasil lawatannya ke TNS Palangka Raya, Minggu (30/10) via whatsapp

TNS, kata anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Daerah Pemilihan (Dapil) Kalteng ini, memiliki luas 537.375 ha, atau lebih dari 20 persen total area gambut tropika di Kalteng. TNS menurut pendapat beberapa peneliti, jadi area dengan jenis gambut terbanyak di dunia.

Potensi gambut yang menggembirakan itu, jelas Gubernur Kalteng Periode 2005-2015 ini, juga memiliki tantangan yang sangat besar. Di TNS sendiri, selain masalah kebakaran hutan, masalah yang dihadapi adalah ilegal logging atau penerbangan liar, dan juga konflik tenurial atau kepentingan pembangunan ilegal di TNS. Permasalahannya yang dihadapi TNS ini, haruslah menjadi perhatian, dan kepedulian bersama.

Pemerintah Pusat, pinta Teras Narang, dapat memberikan perhatian lebih pada TNS, salah satunya dengan memperluas kewenangan pengelolaan daerah. Juga yang tidak kalah penting adalah membangun infrastruktur pendukung, yang menjadikan kawasan ini sebagai kawasan ekologis sekaligus pengungkit perekonomian daerah.

Menjadi museum alam gambut sekaligus sebagai pusat edukasi dan wisata alam yang memberikan kontribusi ekonomi bagi masa depan Kalteng. Ini saatnya membangun kolaborasi perlindungan ekologi dan peningkatan ekonomi daerah. Membangun ekonomi hijau yang tidak meninggalkan masalah besar bagi anak cucu kita di masa depan.

Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau tidak kita, siapa lagi? ded/dor

-
-
-