-
Spirit Kalteng

Jangan Mengoplos Beras Subsidi Bulog dan Menjualnya Kembali

38
×

Jangan Mengoplos Beras Subsidi Bulog dan Menjualnya Kembali

Sebarkan artikel ini
Foto: Kepala Bulog Kalteng, M. Sony Supriyadi
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kepala Bulog Kalteng M Sony Supriyadi menegaskan, bahwa Bulog Provinsi Kalteng sudah melakukan upaya pengendalian inflasi sejak 2022. Selanjutnya pada di 2023 Bulog juga melakukan Operasi Pasar atau Stabilisasi Pasokan Harga Pangan (SPHP) khusus beras, atas perintah pusat dalam bimbingan Badan Pangan Nasional (Bapanas) melakukan pengendalian inflasi dengan menjual beras medium. Hal tersebut dilakukan hampir di seluruh kantor cabang Bulog, termasuk Kantor Wilayah Kalteng.

“Untuk HET disebutkan Rp9.950/kilogram. Jadi kalau kita kemasan 5 kiloan, harga jual maksimal Rp49.750 rupiah,” bebernya, Senin (6/2).

Selanjutnya disebutkan Sony juga, bahwa memang ada kerja sama dengan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Kalteng yang memberikan bantuan subsidi oleh Gubernur melalui BKP dan bekerja sama dengan Bulog dan merupakan upaya Bulog untuk masuk ke masyarakat dalam mengendalikan harga.

“Beras jenisnya ada dua, yaitu beras yang karau sesuai dengan preverensi masyarakat Kalteng dan beras yang teksturnya pulen,” kata Sony.

Selanjutnya, untuk antisipasi tingginya harga beras menjelang hari raya keagamaan, khususnya Ramadan dan Idul Fitri, Bulog Kalteng sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat dengan mendatangkan beras impor.

“Mereka minta beras yang bisa suplai kekurangan stok kita. Mungkin nanti sekitar bulan Maret baru akan panen di wilayah-wilayah lain, kalau sekarang belum dan kalau sudah panen itu juga tidak langsung harganya drop,” terangnya.

Dikatakannya pula bahwa dari Pusat, Bulog diberi kebebasan apabila menerima beras yang impor, harus segera melakukan penjualan berbentuk intervensi untuk pengendalian harga.

Bulog juga sudah bersurat ke Pusat untuk tahap pertama ini, agar dipasok sekitar 3.000 ton beras, di samping untuk memenuhi komoditi bahan pangan lain.

“Di samping itu kita adakan pengadaan minyak goreng yang memang agak sulit. Kita sudah berusaha berkoordinasi dengan pusat. Pusat langsung menunjuk kepada pabrikannya. Kemudian kita juga melakukan pembelian-pembelian juga sebagai antisipasi mendekati hari besar keagamaan,” ucapnya.

Sedangkan untuk daging, lanjutnya, sudah ada perintah logistiknya. Hanya tinggal menunggu droping dari pusat dan perlu berkordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi untuk pemberitahuan untuk ini, bahwa Bulog mendatangkan daging dari provinsi di luar Kalteng. Sebagai upaya pengendalian harga untuk daging sapi.

“Daging sapi harganya memang sangat tinggi sekitar Rp150.000. Kita nanti akan menjual 2/3-nya atau sekitar Rp80.000-Rp90.000,” ujarnya.

Terkait antrean warga yang menumpuk di depan Kantor Bulog Jalan RTA Milono, Sony mengimbau kepada masyarakat agar yang sudah memperoleh beras subsidi untuk tidak melakukan hal-hal yang kurang terpuji. Seperti kembali mengantre, sementara masih banyak warga yang belum kebagian.

“Ada yang dalam sehari 2-3 kali ngantre. Itu yang agak sulit juga. Waktu lalu pernah pakai sistem tinta, tapi tinta di jarinya dihapus dan ikut ngantri lagi,” imbuhnya.

Disebutkan pula, terkait hal ini, Bulog telah melakukan terobosan-terobosan lain, dengan melakukan penjualan di wilayah kelurahan yang penduduknya padat dan rumah ibadah. Hal itu dilakukan sebagai bentuk upaya Bulog agar beras subsidi terdistribusi kepada masyarakat yang membutuhkan.

Sony juga mengimbau agar masyarakat tidak mengoplos beras subsidi Bulog dan menjualnya kembali.

Sementara itu, seorang warga, Saiful kepada Tabengan mengaku sudah antre sejak pukul 8.00 WIB, tetapi dikatakan beras subsidi telah habis.

Menurut Saiful, dirinya melihat sejumlah beras belum lama diturunkan dari truk, tetapi dalam waktu singkat habis.

“Ada yang antre sejak jam 6 pagi. Kami yang baru antre di atas jam segitu kehabisan, padahal Bulog baru buka jam 7,” bebernya. dsn

-
-
-