Nasional

Menteri LHK Anugerahi Tahawa Desa Ramah Satwa

20
×

Menteri LHK Anugerahi Tahawa Desa Ramah Satwa

Sebarkan artikel ini
Menteri LHK Anugerahi Tahawa Desa Ramah Satwa
PENGHARGAAN– Menteri LHK  Siti Nurbaya memberikan penghargaan penguatan fungsi kawasan konservasi kepada Wagub Kalteng Edy Pratowo dan Kepala Desa Tahawa sebagai Desa Ramah Satwa dalam acara HKAN 2023 di TWA Bukit Tangkiling, Rabu (8/11). TABENGAN/YULIANUS

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID-Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya memberikan Anugerah Konservasi Alam kepada 18 penerima pada peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2023, di Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (8/11).

Mereka dinilai terbukti telah berperan serta dalam pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan, khususnya bidang konservasi sumber daya alam dan ekosistem. Salah satu penerima penghargaan adalah Desa Tahawa, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, sebagai Desa Ramah Satwa.

Pada kesempatan ini, Menteri Siti juga melakukan peluncuran Desa Tahawa sebagai Desa Ramah Satwa sekaligus simbolis pelepasliaran satwa di Desa Tahawa. Kemudian, meluncurkan Buku 55 Taman Nasional, Penandatanganan Sampul Perangko Maskot Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, serta Penyerahan Surat Keputusan tentang Penetapan Tahura Isen Mulang Sebangau Berkah.

“Penerima penghargaan dengan upaya yang diberikan dalam menjaga alam, pada puncak acara Hari Konservasi Alam Nasional, yaitu berkenaan dengan langkah-langkah konservasi alam dengan spirit dasar dalam berbagai langkah bidang kehutanan, berupa perlindungan dan penyangga kehidupan pengawetan keanekaragaman hayati dan pemanfaatan secara lestari,” katanya, seraya mengucapkan selamat kepada penerima anugerah.

Sementara itu, Kepala BKSDA Kalteng Noor Adirahmanta mengatakan, Desa Tahawa telah mengalokasikan seluas 9 ribu hektare wilayahnya untuk menjadi Hutan Desa. Masyarakat di Desa Tahawa berkomitmen menjaga semua satwa dan tumbuhan di dalamnya.

“Warga Desa Tahawa akan menjadi petugas patroli untuk menjaga kawasan mereka dari pihak luar yang ingin melakukan perburuan. Diharapkan, apa yang dilakukan Desa Ramah Satwa bisa menular ke desa-desa lainnya,” katanya, saat diwawancarai, di Bukit Tangkiling, Rabu (8/11).

Ia menyampaikan, masyarakat di Desa Tahawa berdamai dengan semua satwa yang ada di desa tersebut. Poin pentingnya adalah masyarakat sudah punya komitmen dan inisiatif untuk menjaga hutan beserta dengan isinya.

“Pertama kali ke situ pun saya takjub dengan Desa Tahawa. Mereka makan dan nongkrong, padahal ada beruang bersarang, tetapi mereka santai-santai saja dan beruangnya pun santai saja. Komitmen dan inisiatif masyarakat Desa Tahawa itu yang susah kita temukan pada masyarakat lainnya. Jadi di Desa Tahawa itu mereka sangat biasa hidup dengan satwa liar. Karena kondisi itulah banyak orang yang ingin melihat satwa di desa tersebut dan masyarakat pun memandu,” ujarnya.

Ia mengatakan, ada beberapa satwa di desa tersebut, di antaranya orang hutan, owa-owa, burung, rusa, beruang dan lain-lain. Jadi ada beberapa satwa yang sudah dilepaskan di desa tersebut, tetapi masyarakatnya tidak heboh.

“Jadi tidak ada konflik antara manusia dan hewan. Kuncinya kita harus mengerti bahwa kita manusia harus mencari nafkah dan mereka bisa mencari penghasilan dari atraksi satwa. Seperti misalnya ada peneliti datang, kan warung mereka jadi ramai, menginap di rumah mereka dan lain-lain itu kan bisa menghasilkan uang,” kata  Adirahmanta.

Ia mengungkapkan, semua manusia memanfaatkan sumber daya alam dan masyarakat Desa Tahawa memanfaatkan hal tersebut dengan benar. ldw