+40.915 Jiwa Terdampak Banjir
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID-Kalimantan Tengah (Kalteng) saat ini masa peralihan musim, diperkirakan bakal menghadapi kemarau dalam 2 bulan ke depan. Sementara itu, ada 40.915 jiwa terdampak banjir di sejumlah wilayah di Kalteng.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Palangka Raya memperkirakan musim kemarau di Kalteng akan dimulai Juli 2024 mendatang.
Prakirawan BMKG Kota Palangka Raya Lian Andriani mengatakan, untuk Kota Palangka Raya baru akan mengalami musim kemarau pada Agustus 2024 mendatang.
“Diperkirakan musim kemarau tahun ini lebih pendek, dimulai pertengahan Juli sampai akhir Agustus 2024,” ujar Lian kepada Tabengan saat ditemui, Kamis (6/6).
Dijelaskan, musim kemarau pada tahun ini lebih singkat dan masih mungkin terjadi hujan. Namun, curah hujan diperkirakan berkurang jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.
BMKG Palangka Raya mengingatkan masyarakat agar waspada dengan cuaca ekstrem di musim peralihan yang akan terjadi nanti. Selain itu, Lian mengungkapkan saat ini musim peralihan cuaca lebih sulit diprediksi karena berubah-ubah.
“Waspada juga pada cuaca ekstrem dan hujan disertai angin kencang yang bisa menyebabkan banjir dan longsor serta pohon tumbang,” ucapnya.
Diketahui, saat ini sebagian wilayah Kalteng masih direndam banjir dan masih berpotensi lebih parah, karena peralihan musim membuat curah hujan meningkat.
Belum usai dengan banjir, Kalteng juga akan menghadapi musim kemarau yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Meski begitu, kemarau yang lebih singkat diprediksi bakal mengurangi dampak karhutla. Jadi kemarau tahun ini lebih singkat dan tahun ini kemarau basah,” tutup Lian.
Terpisah, Kepala Badan Penanggulanan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalteng Ahmad Toyib mengatakan, 40.915 jiwa terdampak banjir di Kalteng. Banjir sudah menjadi bencana tahunan, bahkan daerah yang terdampak banjir kini kondisinya semakin parah.
Berdasarkan data yang dihimpun, 5 Juni 2024 banjir masih merendam 4 kabupaten, di antaranya Kotawaringin Timur (Kotim), Katingan, Seruyan dan Lamandau.
Akibatnya, 40.915 jiwa terdampak banjir di 4 kabupaten itu. Warga Katingan paling banyak terdampak, 29.825 jiwa harus menerima kenyataan tempat tinggalnya terendam air setinggi 50-120 centimeter.
Ketinggian air terparah ada di Kabupaten Lamandau tepatnya di Kecamatan Bulik dengan ketinggian air 2,12 meter. Rata ketinggian air di 4 kabupaten itu tak mengalami perubahan signifikan.
Namun, jumlah orang yang terdampak terus bertambah. Jika pada 3 Juni 2024 hanya 13.023 jiwa yang terdampak banjir, kini jumlahnya meningkat lebih dari dua kali lipat.
Toyib mengungkapkan, banjir terluas terjadi di Katingan yang merendam 85 kelurahan dan desa. Jumlah tersebut bertambah jika dibandingkan data beberapa hari lalu yang hanya 24 desa dan kelurahan.
“Kalau untuk ketinggian air berdasarkan data yang kami himpun tidak banyak berubah,” ujar Toyib saat dihubungi Tabengan, Kamis (6/6).
Tak hanya rumah yang terdampak, fasilitas umum seperti sekolah, puskesmas, serta bangunan pemerintah juga ikut terendam banjir. Di Seruyan, ada 74 fasilitas pendidikan yang terendam banjir dan di kabupaten lain juga tak jauh berbeda.
“Hanya di Kotim fasilitas umum tidak terdampak banjir. Secara keseluruhan fasilitas umum di empat kabupaten yang terendam banjir sebanyak 8.424,” jelasnya.
Toyib mengatakan, data yang dihimpun bisa berubah mengingat pihaknya mengutamakan kecepatan. Meski begitu kondisi yang terjadi saat ini masih berpotensi lebih parah mengingat intensitas curah hujan yang diprediksi meningkat. rmp





