-
Spirit Kalteng

Atraksi Barongsai Sambut Tahun Baru Imlek

80
×

Atraksi Barongsai Sambut Tahun Baru Imlek

Sebarkan artikel ini
TABENGAN/YULIANUS IMLEK – Atraksi Barongsai pada malam pergantian tahun Imlek 2025 di Vihara Avalokitesvara, Selasa (28/1) malam.
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Hujan belum reda dan gerimis masih berjatuhan dari udara Palangka Raya, Selasa (28/1) malam. Namun, itu semua tidak menghalangi warga Tionghoa datang ke Vihara Avalokitesvara Km 9, Bukit Tunggal, Palangka Raya.

Silih berganti, para jemaat berdoa menyambut Imlek 2576 Kongzili. Mereka berharap semua hal bakal lebih baik di tahun yang baru. Tahun baru Imlek 2025 dalam kalender Tionghoa disebut sebagai Tahun Ular Kayu, yang dimulai pada 29 Januari 2025.

”Saya datang berdoa supaya berkatnya lebih baik, semoga yang akan datang lebih baik lagi,” ujar Anchi (40) warga Palangka Raya.

Anchi, seorang ibu rumah tangga dan penjaga toko, berharap kondisi ekonomi di Tahun Ular Kayu ini bisa lebih baik lagi dari tahun sebelumnya. Begitu pula dari sisi kesehatan maupun kehidupan sosial. Dia juga ingin kedamaian selalu tercipta.

Bersama suaminya, Anchi menjadikan Vihara Avalokitesvara sebagai tujuan sembahyang jelang Imlek kali ini. Selain kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, ia memanjatkan harapan di hadapan lebih dari 30 patung Dewa di Vihara Avalokitesvara yang sudah berdiri sejak tahun 1993.

Imlek merupakan tradisi menyambut tahun baru pergantian musim, dari musim dingin berubah ke musim semi, saat tanaman mulai tumbuh. Saat itulah, mereka sembahyang mendoakan bagaimana caranya tanaman-tanaman itu menjadi subur, di samping sembahyang kepada leluhur.

Panitia Imlek sekaligus Pengurus Vihara Avalokitesvara Buddhayana, Frangki Kristanto mengatakan, objek doa dalam sembahyang Imlek bukan saja untuk diri yang berdoa, tetapi juga orang lain, termasuk berharap untuk kebaikan bangsa dan kerukunanumat beragama.

”Terkait harapan semoga ditahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya, termasuk dari segi toleransi antar umat beragama semoga semakin di pererat lagi,” ucapnya.

Kemeriahan menyambut Imlek sangat terlihat di Vihara Avalokitesvara, Sejumlah kegiatan telah dilakukan selama bulan Januari mulai dari bersih-bersih Vihara dan memasang ornamen imlek.

Pada momen Imlek ini pula, Pengurus Vihara menampilkan pertunjukan Barongsai yang diadakan setiap malam pergantian tahun baru Imlek. Meski suasana hujan puluhan warga berbondong-bondong datang untuk menyaksikan pertunjukan kesenian yang sarat akan makna tersebut.

Mereka berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan barongsai. Tiga kali penampilan yang dimulai pukul 21.45 hingga 22.00 WIB itu menjadi bukti bahwa seni tradisional barongsai telah berhasil menembus batas-batas budaya dan agama. Di Palangka Raya, barongsai bukan sekadar pertunjukan kesenian Tionghoa, tetapi telah menjelma menjadi simbol persatuan dalam keberagaman di Kalteng.

“Jadi kita merangkul semuanya, dari suku dan agama apapun bisa bergabung,” ungkap Jeanni Pranesa, satu di antara pemain barongsai saat diwawancarai Tabengan, Selasa (28/1) malam, usai pertunjukan barongsai.

Hal ini menegaskan, kelompok barongsai di Palangka Raya membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa saja yang ingin bergabung, tanpa memandang latar belakang suku maupun agama.

Jeanni membeberkan, para pemain barongsai yang tampil malam itu tak semua berasal dari keturunan Tionghoa. Mereka berasal dari latar belakang suku yang berbeda-beda.

“Ini memang terbuka untuk umum, kami latihan setiap malam minggu,” kata Jeanni.

Barongsai juga bukan sekedar penampilan yang menghibur lewat atraksi dan gerakan yang memukau, tetapi juga pada makna simbolis di balik warna-warni kostumnya.

Dalam tradisi Tiongkok, setiap warna membawa makna dan harapan tersendiri. Barongsai merah, yang paling sering dijumpai, melambangkan keberuntungan dan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.

Sementara itu, barongsai berwarna emas membawa simbol kekayaan dan kelimpahan rezeki. Masyarakat meyakini bahwa penampilan barongsai emas dapat membawa kesuksesan finansial bagi lingkungan sekitarnya.

Lalu, barongsai hijau, meski jarang ditampilkan saat Imlek, juga menyimpan makna mendalam sebagai simbol pertumbuhan dan awal yang baru.

Pertunjukan barongsai di Vihara Awalokiteswara Buddhayana malam itu bukan sekadar hiburan semata. Ia menjadi cermin bagaimana sebuah tradisi dapat menjadi jembatan pemersatu dalam masyarakat yang beragam.

Di tengah rintik hujan, semangat persatuan itu tetap ada, menjadi pengingat bahwa keindahan Indonesia justru terletak pada keberagamannya. Begitu juga di Kalteng dengan falsafah huma betangnya yang menjadi simbol kerukunan masyarakatnya. rmp

 

-
-
-