PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Perjanjian Damai Tumbang Anoi menjadi momen penting dan juga sakral bagi Suku Dayak. Hasil perjanjian itu, mengikat seluruh Suku Dayak untuk tidak lagi melakukan 4 H yaitu Hakayau (Saling Memotong Kepala), Hajipen (Saling Memperbudak), Hasang (Saling Menyerang), dan Habunu (Saling Membunuh). Semua itu diikat dalam satu H, yakni Hapakat (Sepakat) oleh seluruh Suku Dayak.
Menyikapi akan dilaksanakannya Napak Tilas Perjanjian Damai Tumbang Anoi Tahun 2026, Tokoh Kalimantan Tengah (Kalteng) yang juga Anggota DPD RI Dapil Kalteng Dr Agustian Teras Narang memberikan dukungan penuh, yang disertai dengan pesan dan harapan agar pelaksanaan Napak Tilas tidak hanya menjadi sebuah kegiatan seremonial semata.
“Saya secara pribadi mendukung penuh dilaksanakannya Napak Tilas Perjanjian Tumbang Anoi. Hasil komunikasi dengan Bupati Gunung Mas, Jaya S. Monong, beliau berharap kegiatan dilaksanakan di Tumbang Anoi. Oleh sebab itu, Pak Jaya meminta waktu untuk mempersiapkan infrastruktur menuju lokasi Tumbang Anoi,” kata Bapak Pembangunan Kalteng ini, saat diminta tanggapan terkait rencana pelaksanaan Napak Tilas, Rabu (28/10/2026), di Palangka Raya.
Meskipun mendukung, Presiden Pertama Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) ini berpesan, peserta dalam kegiatan tidak boleh membawa-bawa organisasi masyarakat (ormas), ataupun keanggotaannya sebagai partai politik. Semuanya harus satu suara yakni Suku Dayak.
Napak Tilas kali ini, kata Gubernur Kalteng 2 Periode ini, adalah yang Ke-132 tahun. Ini sebuah perjalanan yang sangat panjang, dan juga menjadi catatan penting bagi Suku Dayak yang ada.
“Ini menjadi kesempatan kita bersama, untuk mendorong masyarakat Suku Dayak pengesahan Rancangan UU Masyarakat Hukum Adat (MHA), sebagai bentuk pengakuan terhadap keberadaan Suku Dayak. Aturan ini nantinya akan semakin memperkuat keberadaan terhadap Suku Dayak ke depannya,” pesan Senator Kalteng ini.
Ia menambahkan, 4H yang dituntaskan dengan 1H itu harus semakin digaungkan. Sekarang ini, Hapakat menjadi hal yang sangat penting bagi masyarakat Suku Dayak. Jangan sampai, apa yang sudah menjadi pesan, dan warisan para leluhur Suku Dayak ini semakin hilang, dan tertinggal oleh perkembangan zaman.
“Saya berpengharapan, kegiatan Napak Tilas Tumbang Anoi ini hanya memiliki satu warna, yakni Suku Dayak, jangan ada yang lain di dalamnya. Kembali saya sampaikan, mendukung penuh pelaksanaan kegiatan ini sebaik mungkin,” pungkasnya.ded-red











