PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Suasana di Huma Betang Eka Nganderang, Palangka Raya, sejak beberapa hari terakhir terasa berbeda. Di antara semilir angin sore dan aroma kayu ulin yang khas, tampak para pekerja sibuk memasang tenda, menghias panggung, dan menata berbagai ornamen adat, Kamis (23/10).
Tangan-tangan cekatan itu bekerja tanpa henti, menyulap Huma Betang Eka Tingang Nganderang menjadi arena megah untuk prosesi adat pernikahan Deden Wigustianto, S.E., putra Gubernur Kalimantan Tengah H. Agustiar Sabran, dengan Bunga Aulia Kinanty Kiai Demak, S.E, putri dari pihak wanita Hj Debbie Charlota Jeaneke Egam dan Deddy Yudiansyah Kiai Demak.
Dari kejauhan, deretan kain berwarna merah, hitam, dan kuning tampak menghiasi tiang-tiang betang. Warna-warna itu bukan sekadar hiasan, melainkan simbol kebanggaan suku Dayak melambangkan keberanian, kekuatan, dan kehangatan. Sementara itu, di sisi lain, suara palu, gesekan kayu, dan tawa para panitia berpadu menjadi irama khas persiapan sebuah perayaan besar.
Plt Sekretaris Daerah Kalimantan Tengah Leonard S. Ampung, yang turut meninjau persiapan di lokasi, menyebutkan bahwa prosesi adat pada Sabtu (25/10) mendatang, akan menjadi bentuk penghormatan terhadap budaya dan tradisi lokal.
Tak hanya panitia, beberapa wanita menyiapkan hiasan bunga dan kain, sementara para pemuda menata kursi dan memastikan area betang tetap rapi.
Huma Betang Eka Tingang Nganderang sendiri dipilih sebagai lokasi prosesi bukan tanpa alasan. Rumah adat ini memiliki makna filosofis mendalam bagi masyarakat Dayak melambangkan persatuan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur.
Di sinilah, setiap tamu nantinya akan menyaksikan perpaduan antara keagungan adat dan kebahagiaan keluarga pemimpin daerah. Rangkaian acara akan berlanjut dengan resepsi di Kalawa Convention Center pada Minggu (26/10).
Di tengah hiruk-pikuk persiapan, terpancar rasa bangga bukan hanya karena akan ada pesta besar, tetapi karena adat dan budaya Kalimantan Tengah kembali mendapat ruang terhormat untuk bersinar.
Sebuah pesta, sebuah perayaan, dan di atas semuanya, sebuah penghormatan terhadap warisan budaya Dayak yang tak lekang oleh waktu. ldw





