PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya merilis prakiraan cuaca untuk wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) pada musim kemarau 2026.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Lian Adriani, menyampaikan bahwa kondisi musim kemarau tahun ini berpotensi lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya.
Hal tersebut dipengaruhi oleh kemungkinan munculnya fenomena iklim global El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada semester kedua 2026.
“Berdasarkan analisis terbaru, puncak musim kemarau di wilayah Kalteng diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus. Selain itu, terdapat indikasi kemunculan El Nino lemah hingga moderat yang berpotensi memperpanjang durasi musim kemarau,” ujarnya saat dikonfirmasi Tabengan, Jumat (17/4/2026).
Ia menjelaskan, fenomena El Nino umumnya berdampak pada penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini juga berpotensi meningkatkan suhu udara, sehingga cuaca terasa lebih panas dari biasanya, termasuk di wilayah Kalteng.
“Dampak yang perlu diwaspadai adalah berkurangnya curah hujan, meningkatnya suhu udara, serta kondisi lingkungan yang lebih kering. Ini dapat memicu berbagai risiko, salah satunya meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa wilayah Kalteng termasuk daerah yang rentan terhadap kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat musim kemarau berlangsung, terlebih jika dipicu oleh aktivitas manusia.
Sehubungan dengan itu, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. Selain melanggar aturan, praktik tersebut berpotensi memperparah kondisi kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
“Partisipasi masyarakat sangat penting dalam mencegah karhutla. Kami mengimbau agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran,” imbaunya.
Selain itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi secara tiba-tiba, meskipun berada dalam periode musim kemarau, seperti angin kencang maupun hujan lokal dengan intensitas tinggi.
BMKG memastikan akan terus memantau perkembangan kondisi atmosfer secara berkala dan menyampaikan informasi terkini kepada masyarakat. dte/fwa-red





