Spirit Kalteng

Disdik Kalteng Dorong Research Club AI dan STEM Jadi Prioritas Pendidikan 2026

258
×

Disdik Kalteng Dorong Research Club AI dan STEM Jadi Prioritas Pendidikan 2026

Sebarkan artikel ini
Disdik Kalteng Dorong Research Club AI dan STEM Jadi Prioritas Pendidikan 2026
Disdik Kalteng Dorong Research Club AI dan STEM Jadi Prioritas Pendidikan 2026

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Kalimantan Tengah menegaskan bahwa penguatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), coding, serta implementasi Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) menjadi fokus utama kebijakan pendidikan tahun 2026.

Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah Muhammad Reza Prabowo dalam lanjutan rapat koordinasi daring bersama pengawas serta kepala SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKH) se-Kalteng, Sabtu (17/1).

Reza menekankan bahwa guru dan peserta didik harus mulai membiasakan diri memanfaatkan AI dan coding dalam proses pembelajaran. Menurutnya, penguasaan teknologi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan agar dunia pendidikan di Kalteng mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan tuntutan global.

“Guru-guru harus mulai terbiasa dengan AI dan coding. Ini bukan pilihan lagi, tapi kebutuhan. Kalau kita tidak beradaptasi, kita akan tertinggal,” tegas Reza.

Ia menjelaskan, implementasi STEM di Kalteng tidak boleh berhenti pada tataran konsep, melainkan harus berdampak langsung dan memiliki manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.

“Kalau di pusat orang masih bicara STEM, kita di daerah harus sudah bicara implementasinya. STEM itu harus berdampak dan aplikatif,” ujarnya.

Sebagai langkah konkret, Disdik Kalteng mendorong pembentukan Research Club di setiap satuan pendidikan. Melalui wadah tersebut, setiap sekolah ditargetkan minimal mampu menghasilkan satu riset atau inovasi setiap tahun yang dilakukan langsung oleh peserta didik dengan pendampingan guru.

“Yang melakukan riset adalah anak-anak, bukan guru. Guru berperan sebagai pembimbing dan pengarah sesuai dengan karakter serta potensi sekolah masing-masing,” katanya.

Untuk jenjang SMA, Reza mendorong adanya kolaborasi lintas mata pelajaran, seperti biologi, fisika, dan kimia, guna menghasilkan riset berbasis sains. Sementara itu, Sekolah Khusus (SKH) diharapkan mampu menggali keunggulan dan kekhasan peserta didiknya untuk dikembangkan menjadi inovasi bernilai.

Ia juga mencontohkan pemanfaatan potensi lokal sebagai sumber riset, seperti pengembangan produk berbasis komoditas daerah.

“Di Basarang, potensi nanas sangat besar. Dulu gula dari tebu, sekarang dari jagung atau stevia. Tidak menutup kemungkinan nanti dari nanas. Jangan pernah ragu untuk berinovasi,” ucapnya.

Selain itu, Reza menekankan pentingnya riset berbasis lingkungan. Ia menyinggung contoh penelitian siswa yang memanfaatkan air gambut dengan sistem katoda dan anoda hingga mampu menyalakan lampu.

“Itu bukti bahwa riset bisa dilakukan secara kontekstual dan aplikatif, dekat dengan kehidupan siswa,” jelasnya.

Untuk SMK, arah riset dan inovasi disesuaikan dengan kompetensi keahlian masing-masing, seperti teknologi jaringan, rekayasa, dan bidang vokasi lainnya. Bahkan, Reza menargetkan konsep one school one product sebagai standar minimal inovasi setiap sekolah.

“Bayangkan jika dari lebih 400 sekolah, masing-masing menghasilkan satu produk inovasi setiap tahun. Ini potensi yang luar biasa,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mendorong sekolah agar aktif mempublikasikan hasil inovasi melalui media digital dan media sosial sekolah. Menurutnya, pemanfaatan internet membuka peluang luas untuk memperkenalkan karya peserta didik kepada masyarakat.

Ke depan, Disdik Kalteng juga berencana menggelar ajang inovasi secara berkala, seperti pekan inovasi berbasis zonasi wilayah, guna mempertemukan dan memamerkan hasil riset siswa dari berbagai daerah di Kalteng.

Selain itu, peluang kolaborasi dengan dunia usaha dan industri melalui pemanfaatan program Corporate Social Responsibility (CSR) juga terus dibuka. Melalui platform PENA Kalteng, sekolah dapat difasilitasi untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan di sekitar wilayahnya.

“CSR harus berdampak dan bermanfaat bagi masyarakat. Tidak menutup kemungkinan, dari sini akan lahir inovasi yang menembus tingkat nasional bahkan internasional,” pungkas Reza. ldw