Spirit Kalteng

Palangka Raya Hadapi Pancaroba dan Ancaman Kemarau Kering

164
×

Palangka Raya Hadapi Pancaroba dan Ancaman Kemarau Kering

Sebarkan artikel ini
Palangka Raya Hadapi Pancaroba dan Ancaman Kemarau Kering
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mulai meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana yang dapat muncul dalam periode ini.

Wilayah tersebut mulai memasuki masa pancaroba atau peralihan musim yang ditandai dengan kondisi cuaca tidak menentu, termasuk hujan lebat yang sempat terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi, menyampaikan bahwa saat ini wilayah tersebut memang berada dalam fase transisi menuju musim kemarau.

“Betul, saat ini kita memang sedang berada di masa pancaroba. Meski masih terjadi hujan, berdasarkan prakiraan BMKG, Palangka Raya diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada minggu ketiga April 2026,” ujarnya saat ditemui Tabengan, Rabu (8/4/2026).

Mengantisipasi perubahan cuaca yang dinilai cukup ekstrem, BPBD bersama pemerintah daerah telah melakukan sejumlah langkah kesiapsiagaan. Salah satunya dengan membentuk posko lapangan (Poslap) di sejumlah wilayah yang dinilai rawan.

Langkah ini merupakan inisiasi dari Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palangka Raya yang kemudian dikoordinasikan dengan pemerintah provinsi.

BPBD mencatat setidaknya terdapat sekitar 21 kelurahan yang masuk kategori rawan, khususnya terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi menimbulkan kabut asap.

“Kami sudah mengidentifikasi wilayah rawan. Nantinya juga akan ditetapkan status siaga darurat untuk mengantisipasi musim kemarau,” tambahnya.

Ia menjelaskan, pengalaman beberapa tahun sebelumnya menjadi bahan evaluasi penting. Dua tahun lalu, Palangka Raya mengalami fenomena kemarau basah, di mana hujan masih turun meski telah memasuki musim kemarau. Namun, kondisi tersebut diperkirakan tidak akan terjadi pada tahun ini.

“Tahun 2026 diprediksi kemaraunya lebih panjang dan cenderung kering, terutama mulai Mei hingga Agustus. Ini yang perlu kita waspadai bersama,” jelasnya.

Kondisi kemarau kering berisiko tinggi terhadap terjadinya kebakaran, khususnya di lahan-lahan yang selama ini tidak pernah terbakar namun memiliki banyak material kering yang mudah tersulut api.

“Lahan yang tampak aman justru bisa menjadi sangat rentan jika terdapat penumpukan bahan kering. Ini menjadi fokus utama kami untuk melakukan pencegahan sejak dini,” jelasnya.

Sebagai langkah konkret, BPBD mengerahkan patroli rutin yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari relawan, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga aparat kelurahan. Patroli ini bertujuan untuk memantau kondisi lapangan sekaligus mencegah munculnya titik api.

Selain itu, pembentukan poslap juga melibatkan berbagai pihak lintas sektor. Setiap poslap akan dipimpin oleh lurah setempat dan didampingi oleh aparat TNI dan Polri, seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas, serta partisipasi aktif masyarakat.

“Setiap poslap akan diisi sekitar tujuh personel gabungan. Ini sebagai bentuk kesiapsiagaan kita di tingkat kelurahan,” ungkapnya.

BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca selama masa pancaroba serta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membuka lahan dengan cara membakar.

“Berbagai langkah antisipasi sudah disiapkan, kita berharap potensi bencana selama masa pancaroba hingga musim kemarau mendatang dapat diminimalisasi, sehingga keselamatan masyarakat tetap terjaga,” pungkasnya. dte/fwa-red