Ekobis

Perempuan, Sawit dan Kesempatan

52
×

Perempuan, Sawit dan Kesempatan

Sebarkan artikel ini
Perempuan, Sawit dan Kesempatan

Setiap tanggal 21 April, kita kembali mengingat semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini—sebuah semangat tentang keberanian membuka jalan, menembus batas, dan memperjuangkan kesempatan yang setara.

Hari Kartini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga merefleksikan bagaimana nilai-nilai itu hidup dan berkembang dalam realitas hari ini, termasuk di sektor yang selama ini kerap dipersepsikan maskulin, seperti industri kelapa sawit.

Di tengah hamparan hijau perkebunan dan dinamika operasional yang kompleks, perempuan kini hadir sebagai bagian penting dari roda penggerak industri. Mereka tidak hanya mengisi peran administratif, tetapi juga berkontribusi langsung dalam operasional kebun, fungsi teknis, pengawasan, hingga pengambilan keputusan.

Kehadiran itu membawa perspektif baru—ketelitian, ketekunan, dan pendekatan yang kolaboratif—yang memperkaya kualitas kerja secara keseluruhan.

Di Bumitama Gunajaya Agro (BGA Group), di mana nilai inklusivitas dan kesetaraan gender diterapkan secara nyata, perempuan diberikan ruang yang sama untuk berkembang, bahkan di posisi strategis.

Di Kalimantan Tengah, Ibu Erika Juli Astuti menjadi salah satu penjaga kualitas dan standar operasional perusahaan. Di balik setiap tetes minyak sawit yang memenuhi standar nasional, terdapat dedikasi dan ketelitian yang ia jaga secara konsisten.

Dalam kesehariannya, ia memastikan setiap proses analisis berjalan akurat dan presisi—bukan hanya soal angka dan metode, tetapi juga menjaga kepercayaan terhadap kualitas yang dihasilkan. Di saat yang sama, ia membimbing dan mengembangkan tim, mendorong peningkatan kompetensi serta penyempurnaan metode pengujian.

Peran ini menuntut keahlian teknis, kepemimpinan, dan konsistensi, yang menunjukkan bahwa perempuan mampu menjalaninya dengan sangat baik.

Kisah ini turut menegaskan bahwa anggapan industri sawit sebagai ranah yang didominasi laki-laki tidak selalu relevan. Melalui sistem kerja yang terstruktur, fasilitas yang memadai, serta lingkungan yang aman dan inklusif, BGA menghadirkan ruang bagi perempuan untuk berkembang dan berkarya secara optimal.

Hal ini juga diperkuat dengan kesempatan yang setara dalam pengembangan kompetensi, di mana setiap individu—baik laki-laki maupun perempuan—memiliki akses yang sama terhadap pelatihan dan peningkatan kapasitas sesuai bidangnya.

Praktik tersebut memberikan dampak positif, baik bagi individu maupun perusahaan. Dengan kesempatan yang terbuka secara adil, perempuan tidak hanya menjadi bagian dari tenaga kerja, tetapi juga berperan aktif dalam mendorong inovasi dan kemajuan.

Hari Kartini menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai, tetapi juga bukti bahwa perubahan itu nyata. Di industri sawit, perempuan hari ini bukan lagi pengecualian—mereka adalah bagian dari masa depan. ***/bb