PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) Kalimantan Tengah (Kalteng) 2026 kembali menghadirkan kekayaan budaya daerah melalui lomba Lawang Sakepeng yang digelar di kawasan GOR Indoor Serbaguna, Kota Palangka Raya, Selasa (19/5/2026) pagi.
Perlombaan budaya tradisional tersebut berlangsung meriah dengan diikuti sebanyak 20 regu, terdiri dari 13 tim putra dan 7 tim putri dari berbagai kabupaten dan kota di Kalteng.
Lawang Sakepeng atau yang juga dikenal dengan sebutan Kuntau Dayak merupakan seni tradisional masyarakat Dayak Ngaju yang sarat makna filosofis dan nilai budaya. Atraksi ini biasa ditampilkan dalam upacara adat untuk menyambut tamu kehormatan maupun dalam prosesi perkawinan adat Dayak.
Secara fisik, Lawang Sakepeng diwujudkan dalam bentuk gapura adat yang terbuat dari kayu dengan lebar sekitar 1,5 meter dan tinggi kurang lebih 2,3 meter. Bagian atas gapura dihiasi ukiran ornamen burung enggang, sementara sisi sampingnya dipercantik dengan janur atau daun kelapa muda serta talawang khas Dayak.
Pengamat budaya Kalteng, Wilbertus Wilson menyampaikan bahwa Lawang Sakepeng pada dasarnya merupakan ekspresi kebahagiaan dan keceriaan masyarakat Dayak dalam menyambut tamu.
“Olahraga tradisional Lawang Sakepeng ini pada intinya adalah ekspresi kebahagiaan dan keceriaan dalam menyambut tamu. Seni budaya yang ditonjolkan kemudian dijadikan salah satu materi dalam Festival Budaya Isen Mulang,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan Lawang Sakepeng memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan jati diri masyarakat Dayak maupun masyarakat Kalteng secara umum.
Ia menjelaskan, di dalam tradisi tersebut terkandung nilai disiplin, sportivitas, kekuatan fisik, serta unsur olahraga yang menjadi bagian penting dalam pembinaan generasi muda.
Selain sebagai pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga dinilai menjadi bagian dari program pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kalteng.
“Saya kira sangat penting, mengingat kualitas sumber daya manusia di Kalteng ini masih perlu terus ditingkatkan dibanding daerah lain. Melalui Lawang Sakepeng dan kegiatan budaya lainnya, masyarakat diharapkan merasa mendapat ruang dan perhatian dalam pembinaan dari pemerintah,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu peserta lomba, Mario Fransisko, mengaku bangga dapat tampil dalam ajang budaya terbesar di Kalteng tersebut. Ia mengatakan, persiapan yang dilakukan bersama tim memerlukan latihan kekompakan dan penghayatan terhadap makna budaya Lawang Sakepeng.
“Kami senang bisa ikut tampil di FBIM tahun ini. Selain untuk lomba, kami juga ingin memperkenalkan budaya Dayak kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda agar tidak melupakan tradisi daerah,” katanya.
Ia juga berharap Lawang Sakepeng dapat terus dipertahankan dan semakin dikenal, tidak hanya di Kalteng tetapi juga di tingkat nasional.
Dalam tradisi adat Dayak, Lawang Sakepeng biasanya ditampilkan pada prosesi pernikahan, khususnya saat menyambut kedatangan keluarga mempelai laki-laki yang dianggap sebagai tamu kehormatan.
Tak hanya memiliki nilai seni dan hiburan, Lawang Sakepeng juga mengandung makna filosofis mendalam. Tradisi tersebut dipercaya sebagai simbol untuk menghindarkan gangguan atau bala yang dapat menghambat jalannya suatu acara.
Karena itu, dalam prosesi Lawang Sakepeng terdapat simbol “meretas” atau “memotong” hal-hal buruk agar acara dapat berlangsung lancar, aman, dan penuh keberkahan.
Melalui pelaksanaan lomba tersebut, diharapkan Lawang Sakepeng terus menjadi warisan budaya yang mampu mengangkat karakter, identitas, serta jati diri masyarakat Kalteng di tengah perkembangan zaman. dte/fwa-red











