PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Gelak tawa pecah di halaman belakang GOR Indoor Serbaguna Palangka Raya, Rabu (20/5/2026) malam. Lomba Auh Pahureh atau Stand Up Comedy khas Kalimantan Tengah (Kalteng) sukses menghibur masyarakat lewat humor-humor segar yang dibalut pesan budaya dan filosofi Huma Betang.
Mengusung tema “Betang Huma Itah”, para komika tampil membawakan cerita lucu yang mengangkat kehidupan masyarakat Dayak, nilai kebersamaan, hingga makna rumah betang sebagai simbol persatuan dan toleransi masyarakat Kalteng.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-69 Provinsi Kalteng ini dikoordinir oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Kalteng.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Kalteng Adiah Chandra Sari mengatakan, lomba Auh Pahureh merupakan gagasan langsung dari Gubernur Kalteng yang ingin menghadirkan hiburan khas daerah melalui konsep stand up comedy lokal.
“Iya, jadi sebenarnya lomba Auh Pahureh ini adalah inisiasi dari Bapak Gubernur sendiri. Beliau sangat menyukai ketika mendengar cerita-cerita lucu, sehingga muncul ide untuk mengadakan stand up comedy versi Kalimantan Tengah,” ujarnya.
Menurut Adiah, selama ini Dinas Perpustakaan dan Arsip memang rutin menggelar lomba bercerita. Karena itu, instansinya dipercaya untuk mengoordinir pelaksanaan Auh Pahureh, meski anggaran kegiatan berasal dari panitia besar HUT Kalteng.
Ia menjelaskan, tema Huma Betang sengaja dipilih agar masyarakat lebih memahami filosofi kehidupan masyarakat Dayak yang menjunjung tinggi kebersamaan, persatuan, dan toleransi.
“Rata-rata peserta bercerita tentang Huma Betang itu seperti apa. Kami ingin mengangkat filosofi Huma Betang agar masyarakat Kalimantan Tengah lebih familiar dan memahami makna sebenarnya,” katanya.
Meski waktu pendaftaran terbilang singkat, antusias peserta disebut sangat tinggi, terutama dari komunitas stand up comedy lokal. Para peserta terlebih dahulu melewati tahap seleksi video dan pengumpulan narasi sebelum akhirnya dipilih delapan finalis untuk tampil langsung di panggung utama.
“Di babak awal mereka hanya mengirim video pendek dan poin-poin materi. Tetapi saat tampil, ternyata improvisasi mereka luar biasa,” ungkap Adiah.
Sementara itu, Koordinator Auh Pahureh, Arthur menjelaskan, penilaian dewan juri tidak hanya melihat materi yang dibawakan peserta, tetapi juga bagaimana respons penonton terhadap lawakan yang disampaikan.
“Penguasaan materi menjadi penilaian utama, termasuk bagaimana reaksi audiens. Apakah lucu atau kurang, itu menjadi pertimbangan dewan juri,” jelasnya.
Arthur mengatakan, delapan finalis yang tampil didominasi peserta asal Palangka Raya. Ia berharap lomba ini bisa menjadi agenda rutin dalam Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) pada tahun-tahun mendatang.
“Kami akan usahakan supaya ini menjadi agenda rutin di FBIM tahun depan. Mudah-mudahan mendapat dukungan dan respons positif dari Bapak Gubernur,” katanya.
Ia menambahkan, apabila waktu sosialisasi dan pendaftaran diperpanjang, jumlah peserta diyakini akan jauh lebih banyak karena tingginya minat masyarakat terhadap lomba tersebut.
Dalam ajang perdana ini, Rizki Ansyari berhasil keluar sebagai juara utama dan membawa pulang hadiah sebesar Rp5.250.000.
Melalui Auh Pahureh, pemerintah daerah berharap pelestarian budaya Kalteng dapat dikemas lebih kreatif dan dekat dengan generasi muda, sekaligus menjadi ruang lahirnya komika-komika lokal berbakat. nws/fwa-red











