PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertalite, dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
Antrean panjang yang sempat terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dalam beberapa hari terakhir dipastikan bukan disebabkan oleh kelangkaan pasokan, melainkan meningkatnya permintaan masyarakat serta adanya kendala operasional akibat pemadaman listrik bergilir.
Kepastian tersebut disampaikan usai pertemuan dan diskusi yang digelar Pemko Palangka Raya bersama PT Pertamina Patra Niaga yang dihadiri Sales Branch Manager (SBM) regional Kalimantan Tengah serta seluruh pengelola dari 17 SPBU yang beroperasi di Kota Palangka Raya.
Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini menyampaikan bahwa pertemuan tersebut digelar sebagai langkah pemerintah memastikan distribusi BBM berjalan lancar sekaligus memberikan kepastian kepada masyarakat terkait ketersediaan bahan bakar.
“Tujuan utama pertemuan ini adalah agar persoalan BBM tidak menjadi masalah seperti beberapa hari terakhir. Kami ingin masyarakat merasa tenang dan tidak khawatir terhadap ketersediaan BBM,” ujarnya usai rapat di ruang peteng karuhei l Kantor Walikota Palangka Raya pada Rabu (29/7/2026).
Berdasarkan diskusi yang berlangsung, ia memastikan stok Pertalite yang menjadi jenis BBM paling banyak digunakan masyarakat masih dalam kondisi mencukupi. Kuota yang dialokasikan ke masing-masing SPBU juga dinilai memadai, sementara distribusi BBM ke seluruh SPBU di Kota Palangka Raya berjalan normal.
Sebagai langkah antisipasi agar distribusi semakin lancar, Pertamina juga memajukan waktu pelayanan pengiriman BBM. Apabila sebelumnya distribusi dimulai pukul 06.00 WIB, kini dapat dilakukan sejak pukul 05.00 WIB sehingga pasokan dapat tiba lebih cepat di Kota Palangka Raya.
Menurut Achmad Zaini, antrean kendaraan yang terjadi beberapa hari terakhir lebih dipengaruhi meningkatnya konsumsi Pertalite setelah terjadi selisih harga yang cukup jauh dengan Pertamax.
“Sebelumnya masyarakat cukup banyak menggunakan Pertamax karena selisih harganya tidak terlalu jauh. Namun sekarang ketika harga Pertalite sekitar Rp10.000 per liter dan Pertamax sekitar Rp16.000 per liter, banyak masyarakat beralih menggunakan Pertalite. Hal itu menyebabkan permintaan meningkat sehingga di beberapa SPBU sempat terjadi antrean,” lanjutnya.
Selain lonjakan permintaan, operasional SPBU juga sempat terganggu akibat pemadaman listrik bergilir. Ia menjelaskan, sebagian besar SPBU memang memiliki genset sebagai cadangan listrik, namun kapasitas penggunaannya terbatas.
“Berdasarkan informasi yang kami terima, kemampuan genset di masing-masing SPBU maksimal sekitar lima jam dan tidak dapat dioperasikan secara terus-menerus tanpa jeda. Karena itu kami berharap jadwal pemadaman listrik, khususnya di wilayah yang terdapat SPBU, dapat diatur agar tidak berlangsung terlalu lama agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu,” katanya.
Meski demikian, Achmad Zaini menegaskan tidak seluruh SPBU berhenti beroperasi saat terjadi pemadaman karena sistem pemadaman dilakukan secara bergilir. Masyarakat pun masih dapat melakukan pengisian di SPBU lain yang tidak terdampak pemadaman meskipun kemungkinan terjadi antrean.
Ia juga menepis anggapan bahwa masyarakat melakukan aksi pembelian secara berlebihan (panic buying). Menurutnya, kondisi yang terjadi lebih karena masyarakat ingin memastikan kendaraan mereka memiliki cadangan BBM yang cukup.
“Saya rasa belum ada indikasi ke arah sana. Yang terjadi lebih kepada masyarakat ingin memastikan ketersediaan BBM untuk kendaraannya. Kalau biasanya mereka hanya mengisi setengah tangki, sekarang banyak yang langsung mengisi penuh atau full tank. Hal itu tentu membuat waktu pelayanan di SPBU menjadi lebih lama,” ungkapnya.
Achmad Zaini menambahkan, berdasarkan laporan yang diterima Pemko, hingga hari ini tidak ada SPBU di Kota Palangka Raya yang kehabisan stok Pertalite maupun jenis BBM lainnya.
Untuk memberikan pelayanan yang lebih optimal, empat dari total 17 SPBU di Kota Palangka Raya juga tetap beroperasi selama 24 jam. Keempat SPBU tersebut berada di Jalan Tjilik Riwut Km 12, Jalan Seth Adji, Jalan Diponegoro, dan kawasan Pahandut Seberang.
Selain itu, sejumlah pengelola SPBU juga menyatakan kesiapan memperpanjang jam operasional apabila antrean kendaraan masih terjadi hingga malam hari.
“Pada umumnya operasional SPBU berlangsung mulai pukul 06.00 hingga 22.00 WIB. Namun apabila sampai pukul 22.00 antrean masih cukup panjang, beberapa SPBU bersedia tetap melayani masyarakat hingga sekitar pukul 00.00 WIB,” pungkasnya. dte/fwa-red











