PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kota Palangka Raya terus mengalami peningkatan selama musim kemarau.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat sebanyak 151 kejadian karhutla terjadi sejak diberlakukannya Status Siaga Darurat Karhutla pada 1 Juni hingga 4 Agustus 2026.
Akibat ratusan kejadian tersebut, total luas lahan yang terdampak kebakaran mencapai 162,49 hektare.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kota Palangka Raya Heri Fauzi menyampaikan, Kecamatan Jekan Raya masih menjadi wilayah dengan jumlah kejadian karhutla paling tinggi, yakni mencapai 96 kejadian.
Selanjutnya Kecamatan Sebangau mencatat 34 kejadian, Kecamatan Pahandut 16 kejadian, dan Kecamatan Bukit Batu lima kejadian. Sementara itu, Kecamatan Rakumpit hingga kini belum mencatat adanya kejadian karhutla.
“Sejak Status Siaga Darurat Karhutla diberlakukan pada 1 Juni sampai 4 Agustus 2026, kami mencatat telah terjadi 152 kejadian karhutla dengan total luasan lahan terbakar mencapai 162,49 hektare,” ujar Heri Fauzi, Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan, upaya penanganan karhutla dilakukan melalui kerja sama lintas sektor yang melibatkan berbagai instansi, yakni BPBD Kota Palangka Raya, BPBD Provinsi Kalteng, Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Palangka Raya, Manggala Agni, Polda Kalteng, Polresta Palangka Raya, Kodim 1016/Palangka Raya, Satpol PP, tim kesehatan, serta relawan dan Barisan Pemadam Kebakaran (BPK).
Menurutnya, koordinasi antarlembaga terus dioptimalkan agar setiap laporan kemunculan titik api dapat segera ditindaklanjuti sehingga kebakaran tidak berkembang menjadi lebih luas.
BPBD juga kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Warga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api di lingkungan sekitar, karena langkah pencegahan dan penanganan sejak dini menjadi faktor penting dalam mengendalikan karhutla selama musim kemarau.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Di tengah kondisi cuaca yang kering seperti saat ini, api sangat mudah menyebar dan berpotensi menimbulkan kebakaran yang lebih luas. Pencegahan merupakan langkah paling efektif untuk menekan terjadinya karhutla di Kota Palangka Raya,” pungkasnya.
Sebelumnya, Heri Fauzi mengatakan, selama musim kemarau 2026. Sepanjang periode 1 Juni hingga 2 Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat sebanyak 138 kejadian karhutla dengan total luas lahan terdampak mencapai 157,90 hektare.
“Di antaranya, wilayah Kecamatan Jekan Raya menjadi daerah dengan jumlah kejadian terbanyak. Dari total kasus yang tercatat, 89 kejadian terjadi di Jekan Raya, disusul Kecamatan Sabangau sebanyak 29 kejadian, Kecamatan Pahandut 16 kejadian, dan Kecamatan Bukit Batu empat kejadian. Sementara itu, Kecamatan Rakumpit tidak mencatat adanya kejadian karhutla selama periode tersebut.Kami mencatat terjadi 138 kejadian karhutla. Kejadian terbanyak berada di Kecamatan Jekan Raya diikuti wilayah di Kecamatan Sabangau,” sebutnya, Senin (3/8) lalu. dte/nws/fwa-red











