PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Tumpukan kulit buah dan sisa sayuran yang selama ini dianggap limbah ternyata memiliki nilai ekonomi. Berangkat dari gagasan tersebut, Prodi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Palangka Raya (UPR) melaksanakan Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Pemberdayaan Panti Asuhan Berkah Melalui Program Eco-Panti: Mengubah Sampah Menjadi Rupiah dengan Produksi Eco-Enzyme Ramah Lingkungan.”
Program yang berlangsung selama tiga bulan, mulai Juni hingga September 2026 ini tidak hanya mengajarkan pengelolaan sampah organik, tetapi juga membekali anak-anak panti dengan keterampilan yang berpotensi menjadi sumber pendapatan sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.
Ketua Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini, Rio Eka Desi Purwandari Hartanti, M.Pd , menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan memberikan pelatihan, wawasan, dan keterampilan kepada anak-anak Panti Asuhan Berkah dalam memproduksi eco-enzyme secara mandiri.

“Melalui pelatihan dan pendampingan ini, kami ingin meningkatkan kemampuan anak-anak panti dalam mengolah limbah organik menjadi produk yang bernilai guna dan bernilai ekonomi. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi salah satu langkah menuju kemandirian ekonomi panti asuhan,” ujarnya.
Menurut Rio, keberhasilan program ini memerlukan dukungan berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Kota Palangka Raya, dinas terkait, perguruan tinggi, hingga mahasiswa. Dengan sinergi yang kuat, target peningkatan kapasitas peserta diharapkan dapat tercapai secara optimal.
Ia menjelaskan, pelaksanaan program dibagi dalam beberapa tahapan, yakni perencanaan dan persiapan, pelaksanaan pelatihan dan pendampingan, hingga evaluasi hasil kegiatan. Seluruh rangkaian dirancang untuk memastikan peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkan pembuatan eco-enzyme secara langsung.
Eco-enzyme sendiri merupakan cairan organik hasil fermentasi limbah dapur seperti kulit buah dan sisa sayuran yang dicampur dengan gula merah atau molase serta air. Proses fermentasi berlangsung sekitar tiga bulan hingga menghasilkan cairan berwarna cokelat tua dengan aroma khas fermentasi.

Produk ini memiliki berbagai manfaat, mulai dari pembersih rumah tangga alami, deterjen ramah lingkungan, pupuk organik cair, pestisida alami, hingga penjernih air dan udara. Karena menggunakan bahan baku yang mudah ditemukan dan proses produksi yang sederhana, teknologi eco-enzyme dinilai sangat cocok diterapkan di lingkungan panti asuhan.
Selain memberikan nilai tambah pada limbah organik, program ini juga bertujuan menanamkan kesadaran lingkungan kepada anak-anak panti. Melalui praktik langsung, peserta diajak memahami pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan sekaligus memanfaatkan potensi lokal untuk menghasilkan produk yang bermanfaat.
“Kami berharap anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga memiliki keterampilan yang bisa dikembangkan menjadi usaha produktif di masa depan,” tambah Rio.
Program pengabdian ini sejalan dengan roadmap Pengabdian FKIP UPR Tahun 2025–2029 yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia unggul berbasis potensi lokal di era masyarakat modern. Melalui pelatihan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, FKIP UPR berupaya meningkatkan kompetensi dan daya saing generasi muda, termasuk anak-anak panti asuhan.
Tak hanya itu, kegiatan ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Diketahui kegiatan tersebut didanai melalui Dana Hibah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Tahun Anggaran 2026 yang dialokasikan untuk mendukung pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. nws/fwa-red









