PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Palangka Raya dengan semakin pekat pada Sabtu dan Minggu (29-30/8/2026). Kali ini kabut asap seakan tidak berpindah-pindah seperti sebelum-sebelumnya. Sejak pagi hingga malam hari terus ada.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah bantuan dari pemerintah pusat mulai mengalir dukung penanganan karhutla mulai dimanfaatkan di sejumlah wilayah.
Sejumlah warga mulai mendesak agar Wali Kota segera dapat menuntaskan karhutla dan asap yang saat ini melanda Kota Palangka Raya. Karena tidak saja membuat sesak nafas, batuk dan pusing, asap juga membuat mata menjadi perih, dan lebih berbahaya lagi mulai terlihat partikel hitam bekas bakaran belukar mulai melayang-layang di udara.
Sementara kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Palangka Raya mencapai 16.166 kasus sejak Januari hingga pekan ketiga Agustus 2026. Jumlah tersebut tercatat sebagai yang tertinggi di Kalimantan Tengah (Kalteng).
Karhutla di Kota Palangka Raya, terus terjadi sepanjang musim kemarau. BPBD setempat mencatat 336 kejadian dengan total luas lahan terbakar mencapai 428,46 hektare selama 1 Juni hingga 24 Agustus 2026.
Berdasarkan catatan BPBD, Jekan Raya mengalami 229 kejadian karhutla, disusul Sebangau 72 kejadian, Pahandut 25 kejadian, dan Bukit Batu delapan kejadian. Sementara itu, tidak ada kejadian karhutla yang tercatat di Kecamatan Rakumpit.
Masyarakat juga mempertanyakan, data BPBD Kalteng yang berbeda dengan laporkan daerah dimana terdapat 38.916 titik panas di Kalteng, dengan luas lahan terbakar berdasarkan laporan daerah mencapai 60.028,77 hektare, sedangkan berdasarkan pantauan Sipongi tercatat hanya 7.634,46 hektare saja. Jumlah kejadian Karhutla mencapai 2.090 kejadian.
Masyarakat juga mempertanyakan BPBD Kalteng yang memaparkan bahwa Kalteng memperoleh dukungan helikopter Black Hawk untuk memperkuat operasi water bombing dalam penanganan karhutla. Namun ternyata saat ini unit tersebut belum dapat dioperasikan karena mengalami kerusakan mesin dan masih menunggu suku cadang dari luar negeri.
Laporan Dishub Kalteng oleh Seno Prakosa Nuswantoro, BMKG berdasarkan citra satelit : Per Tanggal 30 Agustus 2026 (Pukul 00:00-14:00 WIB) terdapat 4976 Hotspot, dengan titik hotspot terbanyak berada di Kabupaten Kapuas sebanyak 1105 titik, disusul Kota Palangka Raya dengan 1092 titik; – Pantauan kualitas udara pada tanggal 26 Agustus 2026 per pukul 00:00 – 13:00 di kota Palangka Raya secara umum berada pada kategori “Berbahaya”.
Pada kota Pangkalan Bun secara umum berada pada kategori “Sedang”, namun sempat berada pada kategori “Tidak Sehat” pada pukul 06:00 – 08:00 WIB; – Dalam 24 jam terakhir, tidak terdeteksi hujan di seluruh Wilayah Kalteng, terdapat potensi hujan pada bagian utara wilayah Kalteng di tanggal 3-6 September 2026. Tim/red











