-
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

Rektor UPR Salampak Ikut Padamkan Karhutla hingga Malam

85
×

Rektor UPR Salampak Ikut Padamkan Karhutla hingga Malam

Sebarkan artikel ini
FOTO IST Rektor UPR, Prof Salampak Ikut Padamkan Karhutla.
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) Prof. Dr. Ir. Salampak, M.S., IPU, turun langsung membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kota Palangka Raya. Ia bahkan ikut memegang selang dan memadamkan api bersama petugas hingga malam hari.
Aksi tersebut dilakukan Prof. Salampak sejak 26 Agustus 2026. Sepulang dari bandara, ia langsung menuju lokasi karhutla untuk melihat kondisi sekaligus membantu tim melakukan pemadaman.
“Setibanya dari bandara pada 26 Agustus, saya langsung ikut mengawasi sekaligus membantu pemadaman api hingga malam sekitar pukul 22.00 WIB,” ujar Prof. Salampak, Rabu (26/8/2026).
Dalam proses pemadaman, tim turut menggunakan teknologi shabondama, yakni pemanfaatan busa yang dicampurkan dalam proses pemadaman. Penggunaan teknologi tersebut membantu membasahi lahan yang terbakar sekaligus membuat penggunaan air lebih efektif.
Prof. Salampak menjelaskan, karakteristik lahan yang terbakar membuat penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan menyiram bagian permukaan. Lahan yang telah terbakar tetap harus diperiksa secara menyeluruh lantaran panas yang masih tersimpan dapat memicu munculnya kembali titik api.
Pada Kamis (27/8/2026), Prof. Salampak kembali turun ke lokasi bersama tim. Pemadaman dilakukan sejak sore hingga sekitar pukul 22.30 WIB. Dalam kegiatan tersebut, ia mengaku turut memegang selang dan membantu memadamkan api selama kurang lebih satu jam.
“Saya lumayan ikut memadamkan api selama satu jam dengan memegang selang,” katanya.
Keterlibatan langsung di lapangan membuat Prof. Salampak dapat melihat kondisi penanganan karhutla dari dekat. Menurutnya, tantangan tidak hanya berasal dari api yang terlihat di permukaan, tetapi juga panas yang dapat bertahan di dalam lahan dan sewaktu-waktu memunculkan titik api baru.
Ia menilai penanganan karhutla membutuhkan kerja sama, ketelitian dan ketahanan fisik dari seluruh unsur yang terlibat. Petugas juga harus terus memantau area yang telah dipadamkan untuk memastikan api tidak kembali muncul.
“Pemadaman karhutla membutuhkan kerja sama, ketelitian, dan ketahanan fisik. Api harus benar-benar dikendalikan, termasuk memperhatikan bagian-bagian lahan yang masih berpotensi menimbulkan titik api,” tuturnya.
Prof. Salampak juga mengingatkan kondisi lahan yang kering dapat membuat api bergerak dengan cepat. Karena itu, informasi mengenai kemunculan titik api dinilai penting agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin sebelum kebakaran meluas.
Usai mengikuti proses pemadaman selama beberapa hari, kondisi fisik Prof. Salampak sempat terkuras hingga mengalami kelelahan dan flu berat. Meski demikian, keterlibatannya di lapangan menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan bersama, tidak hanya dari petugas pemadam, tetapi juga berbagai unsur masyarakat dan lembaga. rmp/rca-red

-
-
-