-
Hukrim

17 Adegan Rekonstruksi Tragedi Tumbang Kalemei- Detik-detik Aipda Yudhi, Aiptu Sumariyanto dan Bripda Nopandri Disiksa Secara Sadis hingga Tewas

228
×

17 Adegan Rekonstruksi Tragedi Tumbang Kalemei- Detik-detik Aipda Yudhi, Aiptu Sumariyanto dan Bripda Nopandri Disiksa Secara Sadis hingga Tewas

Sebarkan artikel ini

+Dikejar, Ditembaki dengan Senapan Angin hingga Diserang Menggunakan Parang

REKA ULANG-Adegan rekonstruksi di Aula Darma Bhayangkara Polda Kalteng pada Senin (31/8/2026) saat Aiptu Sumariyanto menembak Tario yang terus menyerang petugas menggunakan parang dalam penggerebekan di Desa Tumbang Kalemei. FOTO TABENGAN/DIRMANTIO
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah (Polda Kalteng) menggelar rekonstruksi peristiwa gugurnya tiga anggota Polri dalam penindakan dugaan jaringan narkotika di Desa Tumbang Kalemei, Kabupaten Katingan.

Rangkaian peristiwa tersebut guna mengungkap secara lebih terang saat proses penggrebekan yang terjadi pada Kamis (2/8/2026) dini hari.

Rekonstruksi berlangsung di Aula Arya Dharma, Mapolda Kalteng, Senin (31/8/2026) sore, menghadirkan sepuluh tersangka yakni Nimu, Isnan Melani Pebriansyah Als Robi, Saldy Als Ateng, M. Lupie, Ahmad Riyadi Saputra Als Yadi, Ilue, Bio, Ramblan Als Busu, Perie, Darius Als Iyus, dan dua tersangka Dodo dengan Pia yang masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) diperankan anggota kepolisian.

Sebanyak 17 adegan diperagakan dalam lima lokasi berbeda. Reka ulang ini menggambarkan bagaimana situasi yang awalnya terjadi saat petugas melakukan penggerebekan kemudian berkembang menjadi aksi penyerangan dan pengejaran terhadap anggota kepolisian.

Berdasarkan reka ulang, adegan pertama berlangsung dirumah Ibu Indem yang diketahui orang tua Bio. Tersangka Ramblan, Ateng, Dodo, Ilue, dan Hendra berada di dapur Rumah (Markas) sedang bermain judi online dan menghisap narkotika jenis sabu, sedangkan posisi Bio bersama Dea berada di dalam kamar.

Tidak lama kemudian, anggota Satresnarkoba Polres Katingan tiba menggunakan dua unit kendaraan roda empat.

Kasatresnarkoba AKP Batu Bara bersama sejumlah anggota mendatangi pintu depan rumah. Setelah pintu diketuk namun tidak dibuka, petugas kemudian mendobrak pintu dan masuk.

Kemudian, Bio keluar dari kamar langsung diamankan. Namun situasi berubah ketika Tario datang kerumah Bio dengan membawa senjata tajam dan hendak menyerang AKP Batu Bara.

Serangan tersebut ditangkis Aipda Yudhi menggunakan tangan kanannya hingga menyebabkan luka bacok. Melihat situasi semakin membahayakan, AKP Batu Bara kemudian memerintahkan anggota untuk mundur.

Saat petugas berlari menuju bagian belakang rumah, Tario disebut terus mengejar dan kembali mengayunkan parang ke arah kepala bagian belakang Aipda Yudhi.

Aiptu Sumariyanto kemudian melepaskan tembakan peringatan. Namun, berdasarkan rekonstruksi, peringatan tersebut tidak dihiraukan. Petugas akhirnya melakukan tindakan tegas dan terukur dengan menembak ke arah Tario hingga menyebabkan yang bersangkutan meninggal dunia di tempat.

Suara tembakan kemudian membuat masyarakat berdatangan ke lokasi. Para anggota Satresnarkoba berupaya menyelamatkan diri melalui pintu belakang.

Kasatresnarkoba AKP Batu Bara disebut bersembunyi di semak-semak, sedangkan sejumlah anggota lainnya berlari menuju sungai dan bergerak ke arah pulau.

Namun, aksi kemudian berlanjut di depan rumah. Bio, Iyus, Pia, Perie, Hendra, Nimo, Yadi dan Ateng keluar dari rumah dan melakukan pengerusakan terhadap dua unit kendaraan milik petugas menggunakan kayu dan batu.

Setelah itu, Bio mengajak rekan-rekannya menuju pulau untuk melakukan pembalasan. Mereka kemudian menyiapkan senjata berupa parang dan senapan angin sebelum bergerak menuju lokasi anggota polisi menyelamatkan diri.

Di TKP ketiga, sejumlah anggota Satresnarkoba diperagakan tengah bersembunyi di sebuah pulau. Dari pinggir sungai, Bio dan Ramblan melakukan penembakan menggunakan senapan angin ke arah pulau beberapa kali.

Sementara itu, Nimo memberikan penerangan menggunakan senter handphone dan Ateng membawa parang di pinggir sungai.

Di saat bersamaan, Ilue, Robi, Pia dan Iyus mengambil sebuah perahu milik Kepala Desa Tumbang Kalemei, Heri Handy, yang berada di lanting. Perahu tersebut kemudian digunakan untuk menuju pulau tempat para anggota polisi bersembunyi.

Karena terus mendapat tembakan, anggota Satresnarkoba kembali berusaha menyelamatkan diri dengan berenang mengikuti arah aliran sungai.

Aipda Yudhi yang sudah dalam kondisi lemas berenang menuju tumpukan pasir atau ambuhan. Namun, sebelum mencapai lokasi tersebut, Yadi disebut terjun ke air dan langsung membacok ke arah kepala Aipda Yudhi.

Saat berada ditumpukan pasir atau ambuhan, serangan terhadap Aipda Yudhi berlanjut.

Setelah itu, tubuh Aipda Yudhi diseret Pia menuju lanting yang berada di dekat tumpukan pasir. Sementara, Iyus, Robi, Pia dan Ilue menaiki perahu dan melanjutkan pengejaran terhadap anggota polisi yang berhasil menyelamatkan diri.

Setibanya di lokasi, mereka menemukan Aiptu Sumariyanto dan Bripda Nopandri. Serangan kembali dilakukan oleh Pia, Iyus dan Robi membacok ke arah Bripda Nopandri. Sementara Ilue memukul sebanyak lima kali ke arah kepala dan badan Apitu Sumariyanto.

Seluruh rangkaian tersebut disaksikan pihak kejaksaan dan kuasa hukum para tersangka. Bagi penyidik, setiap adegan memiliki arti penting. Reka ulang digunakan untuk melihat kembali posisi, tindakan serta rangkaian peristiwa yang terjadi sehingga dapat diperoleh gambaran lebih utuh mengenai perkara tersebut.

Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan melalui Kabidhumas Polda Kalteng Kombes Pol Budi Rachmat mengatakan, rekonstruksi menjadi salah satu tahapan dalam proses penyidikan untuk memperjelas perkara.

“Rekonstruksi ini digelar untuk mengurai secara detail rangkaian tragedi tersebut sekaligus memperjelas peran masing-masing dari delapan tersangka dalam peristiwa berdarah di Tumbang Kalemei,” kata Budi saat dikonfirmasi awak media.

Budi mengungkapkan, peristiwa tersebut bermula dari operasi penindakan yang dilakukan personel Satresnarkoba Polres Katingan terhadap dugaan jaringan narkotika di Desa Tumbang Kalemei.

Kabidhumas menerangkan, kasus tersebut bermula ketika personel Satresnarkoba Polres Katingan melakukan operasi penindakan terhadap dugaan jaringan narkotika di Desa Tumbang Kalemei.

Namun, operasi tersebut berubah menjadi tragedi. Personel kepolisian yang tengah menjalankan tugas mendapat serangan hingga menyebabkan tiga anggota Polri gugur.

“Ketiganya yakni Aiptu Anumerta Yudhi Perdana Putra, Bripda Anumerta Nopandri Ramadhana dan Ipda Anumerta Sumariyanto,” pungkasnya. dte/fwa-red

 

-
-
-