
PULANG PISAU/TABENGAN.CO.ID – PT. Panjujung Alam Lestari (PAL) melakukan ekspos uji coba penggunaan pupuk karbon bahan dasar batu bara (Futura) pada tanam padi varietas hibrida supadi 89 di lahan pertanian Desa Belanti Siam, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau, Kamis (8/9/2022).
Ekspos hasil uji coba penggunaan pupuk itu dilakukan di hamparan sawah milik salah satu petani Belanti Siam Sutrisno. Koordinator Wilayah Penjualan Pupuk Futura Kalteng-Kalsel, PT. PAL, Yasin Mustofa menjelaskan, tujuan ekspos hasil uji coba penggunaan pupuk batu bara pada tanaman padi hibrida adalah sosialisasi pupuk nonkimia itu kepada petani di Kabupaten Pulang Pisau.
Sosialisasi pupuk karbon bahan dasar batu bara tersebut, menurut Yasin, merupakan momen yang tepat dengan kondisi kelangkaan pupuk yang sering dikeluhkan petani. Ini menjadi jawaban, karena pupuk batu bara futura ini 100 persen kandungan lokal Indonesia.
“Kita mengenalkan pupuk Futura Batu Bara ini sebagai solusi, dimana harga pupuk kimia yang sekarang lagi mahal,mudahnya tanaman terserang penyakit,kondisi tanah yang rusak dan resiko gagal panen,” ujar Yasin menyampaikan.
Dikatakan Yasin, pihaknya mengenalkan pupuk yang tujuan dari itu, agar tanah itu bisa di perbaiki menggunakan pupuk batu bara, karena di pupuk batu bara itu ada tiga unsur yang diperlukan dalam tanaman yaitu unsur hara yang lengkap, C Organik yang tinggi dan senyawa humus.
“Harapan kami, masyarakat di Kabupaten Pulpis khususnya di Kalimantan Tengah bisa menggunakan pupuk batu bara, sebagai solusi dimana harga pupuk kimia yang sekarang ini lagi mahal,” terangnya.
Petani Belanti Siam Mengaku Puas Gunakan Pupuk Batu Bara Futura
Petani Belanti Siam Sutrisno, mengaku puas setelah dirinya mendenflot padinya menggunakan pupuk Futura Batu Bara, dan sebelumnya ketika ia tidak menggunakan pupuk futura batu bara tersebut jumlah anakan padi tidak merata, dan ketika menggunakan pupuk futura batu bara menjadi merata.
“Dalam hamparan satu hektar padi, dengan menggunakan futura batu bara menjadi merata pak, dan perbedaannya di malai, untuk pengisiannya sampai ke pangkal,” terangnya.
Sedangkan, hasil panen sebelumnya menggunakan pupuk biasa, rata-rata per hektar dalam satu panen 5 ton untuk varietas hibrida supadi 89, sedangkan ia melihat setelah menggunakan futura batu bara menjadi tembus 6 ton panen.
Dengan menggunakan pupuk tersebut, kata Sutrisno, tanaman padi miliknya terjadi kenaikan hasil panen lebih dari satu ton, dan intinya pihaknya tetap menggunakan pupuk kimia, dan dengan mengurangi pupuk kimia 50 persen.
“Kita mampu menghemat biaya pak, yang biasanya kita pupuk orea, dan poska kimia, bisa sampai delapan sak, dan dengan adanya pupuk futura batu bara, maka untuk orea satu sak dan poska tiga sak,” jelasnya.
Lanjut Sutrisno, dengan adanya pupuk tersebut bisa mengurangi jumlah produksi pengolahan lahan dan perawatan. Untuk total biaya yang ia keluarkan dengan menggunakan pupuk futura batu bara sebesar lebih kurang Rp 1.750rb sampai Rp. 2juta.
Untuk diketahui, bahwa pupuk futura batu hara mendapat hak paten dari Amerika Serikat dan dan Indonesia dengan kandungan c-organiknya -+30%. c-mye











