-
PERTANIAN

Food Estate di Kawasan Gambut Dalam Perlu Kajian Khusus

44
×

Food Estate di Kawasan Gambut Dalam Perlu Kajian Khusus

Sebarkan artikel ini
-

*Dr Ir Sosilawaty : Tidak Harus Sawah, Sesuaikan Dengan Kearifan Lokal

PALANGKA RAYA/tabengan.co.id – Food Estate sebagai Program Strategi Nasional (PSN) di Kalteng, diharapkan mampu mengatasi persoalan pangan serta memotivasi daerah lain dalam mewujudkan lumbung pangan nasional. Dimasa pandemi Covid-19 ini, berbagai tantangan dihadapi dalam upaya menyukseskan project besar tersebut kedepan.

Dalam Webinar Food Estate Ditengah Pandemi Covid-19 yang digelar Tribun Network, Senin (27/9), Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Palangka Raya (UPR) Dr Ir Sosilawaty menuturkan, pihaknya ikut terlibat dalam project food estate untuk lini ekologi dan ekonomi. Dari pengamatan di lapangan, ujarnya, kawasan eks Proyek Lahan Gambut (PLG) itu tidak hanya dilingkupi dengan gambut tipis saja.

“Kalau untuk gambut tipis memang cocok ditanam padi, namun ada juga dikawasan itu lokasi dengan gambut dalam yang bisa mencapai 12 meter. Ini yang perlu kajian khusus dan menyeluruh,” ujarnya. Berdasarkan pengalaman di lapangan seperti di Lamunti atau Belanti, masyarakat yang berdomisili di kawasan gambut dalam, tidak bisa menanam padi sawah.

Kondisi ini, ucapnya perlu perhatian khusus, yang mana masyarakatnya akan menyesuaikan dengan kearifan lokal dalam memenuhi ekonomi desa setempat. Misalnya, ucap dia, dengan membuat sistem budidaya beje (budidaya ikan memanfaatkan karakteristik wilayah pasang surut).

Jadi, ujarnya, warga di kawasan gambut dalam itu mengajukan pemanfaatan perangkap ikan tersebut. Intinya tidak harus dengan mengolah lahan terkait, menjadi lokasi penanaman padi sawah. “Kalau untuk warga yang tinggal di kawasan gambut dalam, jelas sulit menanam padi dan hanya jadi penonton saja. Maka untuk menyiasati itu, perlu ditonjolkan kearifan lokal menyesuaikan potensi desa masing-masing,” jelasnya.

Hal itu juga dirinya temui di wilayah Mentangai, yang mana banyak lahan kerap mengalami bencana kebakaran. Maka warganya berinisiatif menanam sagu, yang berguna baik bagi manusia maupun pakan ternak. Maka untuk itu dirinya menyimpulkan, perlunya penyesuaian karakteristik wilayah sesuai kearifan lokal serta kajian khusus dan menyeluruh untuk kawasan gambut dalam.

Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan RI) Syahril Yasin Limpo mengakui, bukan hal yang mudah menghadapi serta mengelola lahan yang didominasi hutan rawa, di kawasan Eks Proyek Lahan Gambut (PLG) tersebut.

Dijelaskannya dari 3000 hektar, ada 1000 ha yang mengalami kesulitan akibat kawasan rawa itu. “Memang kedalamannya bisa setengah sampai 1 meter, bibit sangat sulit masuk seperti Hibrida. Namun hal ini secara bertahap bisa kita tindaklanjuti, baik dari irigasi dan hal lainnya. Ketinggian rawanya masih sangat besar,” ujarnya disela-sela webinar tersebut. Berbagai upaya dilakukan melalui teknologi serta riset yang dilakukan di lapangan serta memaksimalkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), demi pengelolaan secara optimal. Dirinya juga mengakui, food estate sendiri dirasa membutuhkan banyak berbagai penyempurnaan serta perjalanan yang masih sangat panjang.

Sementara itu Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) Andri Elia Embang menuturkan, perlunya SDM yang mumpuni dalam mengoptimalkan food estate di Kalteng. “ Food estate diharapkan menyerap pemuda perguruan tinggi. Lulusan UPR sendiri, potensi lulusan dari delapan fakultas meluluskan 3500 – 4000 mahasiswa pertahun,” jelasnya.drn

-
-
-