-
PEMKAB KOTIM

Dinas Perikanan Upaya Tingkatkan Konsumsi Ikan Pada Anak

38
×

Dinas Perikanan Upaya Tingkatkan Konsumsi Ikan Pada Anak

Sebarkan artikel ini
KONSUMSI IKAN-Bupati Kotim Halikinnor dan Kepala Diskan Kotim Ahmad Sarwo Oboi ketika melakukan panen ikan (MAYA SELVIANI)
-

SAMPIT/TABENGAN.CO.ID-Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur  melalui Dinas Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), berupaya meningkatkan konsumsi ikan pada kalangan anak-anak dan balita. Disamping itu pihaknya juga berupaya untuk menjadikan anak-anak gemar makan ikan.

“Kami memang berupaya meningkatkan konsumsi ikan pada anak supaya gizi mereka tercukupi karena ikan kaya dengan vitamin yang bagus untuk tumbuh kembang anak,”ujar Kepala Dinas Perikanan Kotim Ahmad Sarwo Oboi, Minggu (25/9/2022).

Menurutnya untuk kalangan masyarakat dewasa di Kotim mengkonsumsi ikan sudah merupakan hal yang biasa. Bahkan sampai-sampai tingkat konsumsi ikan di Kotim melebihi dari target yang ditentukan.

“Kalau orang dewasa di Kotim ini saya yakin semua suka makan ikan. Nah saat ini kita coba menggalakkan anak-anak untuk gemar makan ikan karena ini sangat penting untuk kesehatan,”tuturnya.

Rendahnya konsumsi ikan di masyarakat tentu dapat berdampak buruk terhadap kesehatan. Terutama untuk anak-anak dan juga lansia. Pasalnya dengan mengkonsumsi ikan dengan jumlah yang cukup tentu dapat memenuhi kebutuhan protein masyarakat.

“Makan ikan itu penting. Karena ikan mengandung banyak gizi dan protein yang diperlukan oleh tubuh. Terutama untuk anak-anak sangat dianjurkan untuk banyak mengkonsumsi ikan, “ ujarnya.

Secara nasional pun menurutnya konsumsi ikan masyarakat Indonesia tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara lain. Serta belum merata di seluruh wilayah.

Untuk itu pihaknya selalu berupaya agar terjadi peningkatan jumlah konsumsi ikan di Kotim. Hal itu sebagai upaya Pemkab juga untuk memberantas stunting. Stunting merupakan kondisi seorang anak yang tumbuh dengan tubuh pendek. Stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang bisa menyebabkan kemampuan mental dan belajar serta prestasi yang kurang.

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama. Kondisi ini bisa terjadi dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia sekitar dua tahun.

Stunting juga disebutkan sebagai salah satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi. Untuk mencegah penyakit ini, Pemkab Kotim gencar mengajak masyarakat meningkatkan pemenuhan gizi keluarga. Masyarakat diajarkan diversifikasi pangan agar asupan gizi tercukupi.

Masyarakat diminta tidak hanya mengonsumsi nasi, karena banyak ragam pangan untuk pemenuhan sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral sehingga membuat kualitas gizi terus meningkat.

“Kita harus mengatasi kekurangan gizi sehingga kualitas sumber daya manusia generasi penerus juga meningkat.

Makanan sehat dan bergizi tidak perlu mahal. Sangat banyak sumber makanan yang harganya murah, bahkan tersedia di sekitar rumah, namun gizinya sangat tinggi,” terangnya. (C-May)

-
-
-