PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Banjir yang diakibatkan naiknya debit air di sungai-sungai besar yang melintasi Kota Palangka Raya, kini kembali terjadi. Pantauan di lapangan, di Kelurahan Palangka tepatnya Jalan Mendawai dan sekitar Pasar Kahayan, air telah naik cukup tinggi hingga menggenangi jalan permukiman. Bahkan di Jalan Mendawai I dan Jalan Anoi, ketinggian air hingga mencapai lutut orang dewasa.
Kepala BPBD Kota Palangka Raya Emi Abriyani kepada Tabengan, Rabu (16/11), mengatakan, hingga saat ini banjir telah berdampak pada 17 kelurahan di 4 kecamatan dengan ketinggian bervariasi, mulai 30 hingga 60 cm.
Banjir terparah di Kelurahan Palangka. Sebanyak 30 RT, 8 rumah ibadah, 6 sekolah dan 12 jalan permukiman terendam air. Lalu Kelurahan Marang, ada 3 RT yang terendam air dengan ketinggian mencapai 60 cm.
“Sore ini kami lakukan pemantauan di lokasi banjir yang ada di Kelurahan Palangka. Kami akan lakukan pemetaan dan pendataan terhadap jumlah warga dan fasilitas terdampak,” kata Emi.
Adapun wilayah yang terdampak antara lain Kelurahan Pahandut, Langkai, Pahandut Seberang, Tumbang Rungan, Tanjung Pinang, Bukit Tunggal, Petuk Katimpun, Palangka, Bereng Bengkel, Kameloh Baru, Danau Tundai, Kalampangan, Marang, Tangkiling, Tumbang Tahai, Banturung dan Kelurahan Sei Gohong.
“Semua wilayah tersebut kondisi airnya naik. Total ada 658 Kepala Keluarga, 1.559 jiwa dan 468 bangunan yang terdampak dari luapan Sungai Kahayan dan Rungan. Tapi seluruh masyarakat belum ada yang mengungsi,” bebernya.
Saat ini, lanjut Emi, pihaknya tengah menyiapkan lokasi pengungsian dan dapur umum bagi warga setempat yang menjadi korban banjir kiriman.
“Untuk lokasi posko dan pengungsian sudah siap kita data, dan jika sewaktu-waktu diperlukan dapat segera dibangun dan difungsikan,” sebutnya.
Untuk lokasi yang potensial dijadikan sebagai posko dan pusat pengungsian tidak berbeda jauh dari tahun sebelumnya. Di antara lokasi itu, yakni di sekitar Pasar Kahayan, Gedung Koni, Jalan Arut dan di kantor kelurahan yang tidak tergenang banjir.
Intinya, lanjut Emi, lokasi untuk posko tidak tergenang air dan mudah dijangkau masyarakat maupun petugas.
Emi pun minta masyarakat, terutama di daerah rendah dan di kawasan bantaran sungai meningkatkan kewaspadaan terhadap adanya penambahan ketinggian air. Apalagi berdasarkan informasi BMKG sampai awal tahun depan hujan masih berpotensi mengguyur sejumlah wilayah Kalteng, termasuk Kabupaten Gunung Mas dan Kota Palangka Raya.
Dalam rangka memberikan informasi potensi bencana banjir, tim BPBD akan secara berkala melakukan pemantauan tinggi air sungai di titik-titik pantau yang telah ditetapkan.
“Yang tidak kalah penting, seiring dengan meningkatnya curah hujan dan tinggi debit air, masyarakat juga diminta memantau instalasi listrik yang dimiliki, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan saat banjir tiba,” pungkas Emi.
Sekolah Diliburkan
Banjir yang telah masuk ke halaman Pasar Kahayan menghambat aktivitas warga setempat dan pedagang. Selain itu, banjir juga berdampak pada proses belajar mengajar di PAUD Al Amin. Pihak Yayasan terpaksa meliburkan aktivitas belajar mengajar karena air telah masuk ke kawasan sekolah.
Ketua RT 06 RW 07, Mulyadi mengatakan, ketinggian air di Jalan Mendawai saat ini mencapai 50 centimeter.
“Banjir ini sudah terjadi sejak lima hari yang lalu. Tapi dua hari terakhir debit air mulai tambah tinggi,” katanya. Setidaknya ada sekitar 100 KK yang menjadi korban dalambanjir tahunan ini. Sebanyak 30 keluarga dilaporkan telah mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman. Sebagian warga lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah karena khawatir kehilangan barang berharga.
“Sebagian tidak mengevakuasi karena tidak punya pilihan, kemudian juga karena takut barangnya ada yang hilang saat ditinggal kosong,” terangnya.
Sering terjadinya banjir di kawasan Pasar Kahayan dan Jalan Mendawai beberapa tahun belakangan bahkan membuat warga berpikir untuk menjual rumahnya. Salah satunya H Slamet Jaya. Ia mengaku sudah tidak tahan dengan banjir yang terus terjadi setiap tahun.
“Sudah sejak dua tahun lalu saya memasarkan rumah saya untuk dijual. Harapannya bisa pindah dari sini dan bebas dari banjir. Kalau dulu itu tiga atau empat tahun baru banjir, sekarang malah setiap tahun,” jelasnya. rgb/fwa











