PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID- Duta Petani Milenial, Asep Eka DS, kepada Tabengan menyampaikan bahwa dirinya sangat menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan tanam padi yang dilakukan di Kelurahan Pager, Kota Palangka Raya Selasa (7/2).
“Kami sebagai Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian RI menyambut baik dan mengapresiasi yang tinggi terhadap walikota beserta jajarannya,” bebernya.
Disebutkan Ketua Poktan Harapan Kota Palangka Raya itu mengatakan dengan dilaksanakan penanaman padi itu, artinya Pemerintah Kota Palangka Raya sudah mulai memperhatikan bisnis pertanian yang ada di Kota Palangka Raya dan itu memang seyogyanya dilakukan.
Tetapi dalam hal untuk mengembangkan yang lebih luas, Asep menegaskan untuk berproduksi yang lebih luas menurutnya perlu dipertimbangkan ulang.
“Artinya begini itu bukan sikap pesimis, tapi di dunia pertanian itu ada syarat dan ketentuan. Untuk padi kita berpendapat bahwa di Palangka Raya itu bukan habitatnya padi. Jadi nanti yang jadi kendala terbesar adalah mahalnya biaya dipengelolaan lahan. Karena di Palangka Raya ini untuk lahan pertanian itu masih, hampir semua berharap pada tadah hujan. Jadi tidak ada irigasi yang masiv,”
Disebut Asep, karakteristik padi adalah memerlukan irigasi yang masiv disamping itu iklim yang sangat ekstrem berbeda dengan di pulau lain, seperti di Jawa. Sehingga nantinya kalau dipaksakan untuk bertanam padi, dikhawatirkannya adalah jika dikonversikan harga nasional maka yang terjadi petani padi di Palangka Raya itu malah merugi dan tidak mendapat apa-apa. Karena mahalnya biaya produksi itu, untuk pengolahan lahan tadi.
“Tapi dari kegiatan tersebut kita mengapresiasi dengan baik Pemerintah Kota,” imbuhnya menegaskan.
Kemudian, saat dibincangi Asep juga menyinggung tentang stigma masyarakat yang mengatakan petani itu tidak ada harapan dan tidak ada cuannya.
Disebutkan Asep hal itu adalah kurang tepat. Karena dalam berbagai keadaan justru bisnis pertanian ini bertahan. Itu terbukti disaat secara global pandemi Covid mengguncang semua aspek hidup.
“Bisnis yang sangat bertahan itu justru adalah bisnis pertanian. Artinya, jika pertanian itu di kelola dengan managemen yang baik, kemudian menggunakan teknologi, tekad yang kuat, itu sangat menghasilkan,”
Jadi, lanjutnya. Tidak ada pekerjaan dipertanian itu yang merugi sebenarnya. Karena pertanian itu adalah bisnis yang abadi. Selama manusia hidup itu perlu makan. Memproses makanan itu diperoleh dari bertani.
“Jadi bisnis pertanian tidak ada matinya,”
Selanjutnya, untuk mengembangkan minat kaum muda untuk bertani, Asep menyarankan agar pemerintah juga paling tidak memberikan sebuah pendampingan terutama terkait pemasaran.
“Karena memang kebanyakan nanti bingung. Pasarnya kemana? Karena pertumbuhan penduduk Palangka Raya sangat lambat, tidak seperti daerah lain. Artinya, pemasaranpun akan melambat.”
Tetapi harus diingat juga bahwa pasti ada dampak positifnya terkait IKN yang pindah di Kalimantan. Sehingga untuk Palangka Raya juga termasuk menjadi daerah penyangga pangan. Disitulah peluang yang bisa diambil, jadi dalam bertani masalah pemasaran tidak khawatir sebenarnya.
“Pendampingan yang saya maksud adalah pemerintah membangun sebanyak mungkin gerai-gerai pertanian disetiap sudut kota atau perkampungan, yang memang untuk menampung hasil pertanian dan memasarkan kalau bisa,” bebernya lagi.
Namun jika hal itu berat, Asep mengatakan pemerintah setidaknya dapat mengatur regulasi bagaimana memasarkan produk-produk pertanian yang dihasilkan petani di Palangka Raya supaya harganya tidak terlalu fluktuatif. dsn











