
SAMPIT/TABENGAN.CO.ID – Penerimaan calon pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih diwarnai dengan aksi lobi-lobi.
Hal tersebut diakui oleh Wakil Bupati Kotim Irawati yang menyebut, bahwa dalam tahapan dari pendaftaran hingga masa seleksi Paskibraka Kotim tersebut, dirinya dan Bupati Kotim banyak mendapatkan permintaan dari berbagai kalangan masyarakat untuk dapat meloloskan anaknya yang akan ikut tes seleksi.
“Ada yang datang ke Bupati, ada yang datang ke saya untuk meminta meloloskan anak yang akan ikut tes. Tentunya hal ini tidak bisa kami lakukan,” ujarnya saat kegiatan pembukaan seleksi paskibraka di Gedung Serbaguna Sampit, Senin (27/3).
Untuk itu dirinya berpesan kepada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kotim serta panitia pelaksana pembentukan Paskibraka agar betul-betul selektif dan adil dalam menyeleksi calon Paskibraka. Hal itu dilakukan agar nantinya dapat terpilih, baik menjadi wakil di kabupaten, tingkat provinsi dan sekaligus mewakili pada tingkat nasional.
Senada dengan Wabup Kotim, Kepala Badan Kesbangpol Kotim Sanggul Lumban Gaol juga mengaku banyak mendapatkan telepon dari sejumlah orang dan teman-temannya yang menginginkan untuk meloloskan anaknya dalam seleksi tersebut.
Namun dirinya secara tegas menolak permintaan itu dikarenakan semua proses seleksi penerimaan paskibraka dilakukan secara transparan dan sesuai prosedur. Apalagi ditambah saat ini semua sistem penerimaan menggunakan sistem online, sejak pendaftaran hingga proses seleksi.
“Tidak ada peserta titipan di sini karena memang juga tidak bisa. Semua menggunakan sistem online dan sistem gugur. Kalau tidak masuk criteria, ya langsung otomatis tidak lolos,” terangnya.
Dirinya mencontohkan, seperti saat proses pengukuran tinggi badan, jika peserta dinyatakan tinggi badannya tidak sesuai dengan ketentuan, maka akan langsung dinyatakan tidak lolos yang penilaiannya langsung melalui aplikasi dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Pelaporan pun dilakukan secara real time, sehingga tidak ada peluang untuk panitia dapat dilobi meloloskan peserta yang tidak sesuai dengan ketentuan.
“Kalau saya sih tidak bisa (dilobi) karena itu akan merusak sistem. Jadi kita melakukan seleksi sesuai ketentuan dan semua berkompetensi sesuai kemampuannya,” pungkasnya. c-may











