-
Spirit Kalteng

Kasus ASF Babi Muncul di Kapuas dan Mura  

73
×

Kasus ASF Babi Muncul di Kapuas dan Mura  

Sebarkan artikel ini
VAKSINASI–Petugas dari Pusat Kesehatan Hewan Palangka Raya saat melaksanakan tindakan preventif/vaksinasi untuk mencegah penyebaran LSD dan ASF, beberapa waktu lalu.ISTIMEWA
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kematian hewan ternak babi milik masyarakat di sejumlah daerah di Kalimantan Tengah (Kalteng) yang diduga terserang African Swine Fever (ASF), menjadi perhatian serius dari pemerintah setempat.

Baru-baru ini muncul kematian ternak babi milik masyarakat di Kabupaten Kapuas dan Murung Raya (Mura). Untuk mencegah kasus tersebut di Kota Palangka Raya, Pj Wali Kota Hera Nugrahayu langsung memerintahkan dinas terkait melakukan langkah pencegahan dengan vaksinasi.

Hera mengatakan, kasus ASF yang kembali muncul sekarang ini menjadi perhatian serius Pemko Palangka Raya. Bahkan, pihaknya juga sudah melakukan deteksi dini, bukan hanya ASF tetapi juga penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) pada ternak.

“Saat ini petugas Pusat Kesehatan Hewan sedang melakukan tindakan preventif/vaksinasi di lapangan untuk mencegah penyakit LSD pada ternak sapi dan tindakan biosekuruti penyakit ASF pada ternak babi,” kata Hera.

Terpisah, Kepala Dinas TPHP Kalteng Hj Sunarti mengungkapkan, tercatat kasus ASF pada babi di Kalteng terjadi di Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Mura.

“Daerah yang ada kasus ASF  Kapuas di Kecamatan Mandau Talawang di Desa Tumbang Manyarung (8 ekor babi) dan Tumbang Tihis (7 ekor babi),” kata Sunarti saat dihubungi Tabengan, Minggu (11/2).

Di Mura terjadi di Kecamatan Tanah Siang di Desa Dirung Bakung (6 ekor babi) dan Desa Olung Nango (12 ekor babi).

“Populasi Babi di Kecamatan Mandau Talawang 25 ekor. Populasi babi total di Kabupaten Kapuas  1055 ekor. Kemudian populasi babi di Kecamatan Tanah Siang sebanyak 125 ekor dan populasi babi total di Kabupaten Mura sebanyak 1032,” sebutnya.

Ia mengungkapkan, langkah antisipasi Pemprov Kalteng dalam menangani kasus ASF pada hewan adalah setiap ternak luar daerah yang masuk ke Kalteng, harus disertai SKKH (Surat Keterangan Kesehatan Hewan), sebagai antisipasi masuknya penyakit hewan dari luar daerah.

“Sudah mendatangkan tim ke lokasi kejadian kasus ASF dari medik veteriner (dokter hewan) dan paramedik veteriner (mantri hewan) untuk melakukan desinfeksi dan penyuluhan ke masyarakat peternak (daerah wabah/kasus) untuk higiene sanitasi serta menjaga lalu lintas ternak babi (mengisolasi sementara daerah kasus ),” terangnya.

Ia mengungkapkan, pihaknya sudah mengambil sampel untuk dikirimkan ke Laboratorium Regional BVet Banjarbaru untuk dipastikan kasus  penyakitnya. ldw/sgh

 

-
-
-