DPRD MURUNG RAYA

Mura Kondusif Jelang 2 Perayaan Keagamaan Berbeda

23
×

Mura Kondusif Jelang 2 Perayaan Keagamaan Berbeda

Sebarkan artikel ini
Ketua Komisi II DPRD Mura Bebie

PURUK CAHU/TABENGAN.CO.ID- Pada akhir bulan Januari 2025, akan berlangsung dua perayaan keagamaan sekaligus. Umat Islam merayakan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan umat Konghucu merayakan Tahun Baru Imlek

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Murung Raya (Mura) Bebie menyatakan toleransi dan kerukunan antar umat beragama di Mura cukup tinggi. Hingga saat ini tidak terjadi gesekan antar pihak dan kondisi Mura tergolong aman dan kondusif.

“Saya salut dengan toleransi antar umat beragama di Mura,” puji Bebie.

Politisi PDI Perjuangan ini menyebut perbedaan agama telah menjadi sunnatullah. Sebagaimana, perayaan Isra’ Mi’raj dan Imlek di bulan yang sama dengan waktu yang berdekatan.

“Ini menjadi sinyal penting kita dalam merayakan toleransi  dalam beragama sekaligus merayakan toleransi dalam perbedaan sikap politik di Murung Raya ini,” yakinnya.

Ia menyebut Isra’ Mi’raj dan Imlek pada dasarnya dua entitas nilai spiritualitas yang berbeda secara prinsip keimanan. Tetapi, ada bentuk nilai kognitif keduanya yang menjadi titik-temu toleransi di dalamnya.

Bebie menerangkan, antara bentuk datangnya kewajiban shalat dalam Isra’ Mi’raj-nya Nabi sebagai (anil fahsa’ iwal mungkar). Serta, perayaan Imlek sebagai transformasi diri secara spiritual dalam mencapai ketenteraman sosial, kebahagiaan dan kesejahteraan.

Ia menambahkan, secara sublimatif, toleransi di dalam spiritualitas Imlek dan Isra’ Mi’raj sebetulnya tidak tentang perkara pencampuradukan iman. Tetapi, toleransi berkaitan dengan rasa bentuk empati kita atas spiritualitas keimanan yang berbeda itu. Dengan melihat pada potensi nilai yang sama-sama bisa membawa maslahat bagi kehidupan sosial dan peradaban.

Seseorang perlu memahami nilai-nilai spiritualitas agama lain bukan untuk meyakini kebenarannya atau-pun mencari kesalahannya. Tetapi, melihat bagaimana perbedaan dan persamaan yang harus kita sikapi dengan kesadaran yang bijaksana.

“Proses melintasi batas agama berarti kita memahami agama lain. Lalu kembali dengan kesadaran beragama yang lebih mapan namun tetap toleran,” paparnya.

Artinya, lanjut Bebie, toleransi tidak berpijak pada klaim kebenaran dalam tradisi agama. Tetapi lahir dari kesadaran kita dalam menghargai perbedaan sebagai keniscayaan dengan melihat agama secara potensial untuk membangun kerja-sama atas persamaan-persamaan nilai yang membentang di dalamnya.

“Tidak saling mengganggu, mematuhi segala perintah-Nya. Lalu dituntut untuk berlomba dalam kebaikan/kebajikan (fastabikul khoirot).  Jadi, perbedaan sebetulnya adalah bagian dari potensi (fastabikul khoirot),” ujarnya. dre

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *