-
Hukrim

Anak Disabilitas Rentan Jadi Korban Kekerasan Seksual

48
×

Anak Disabilitas Rentan Jadi Korban Kekerasan Seksual

Sebarkan artikel ini
Widya Kumala Wati
-

*Kak Yaya: Tingkatkan Edukasi dan Pendampingan

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID — Anak dengan kebutuhan khusus atau disabilitas kerap menjadi kelompok yang paling rentan menjadi korban kekerasan seksual. Hal ini disampaikan Widya Kumala Wati atau akrab disapa Kak Yaya, anggota Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).

Ia menegaskan anak disabilitas tetap memiliki perkembangan hormon seksual layaknya anak-anak pada umumnya. Namun keterbatasan mereka dalam memahami lingkungan sekitar membuat mereka lebih mudah dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Anak dengan kebutuhan khusus memiliki hormon seksual seperti manusia pada umumnya. Oleh karena itu, mereka perlu diajari cara menjaga diri dan mengenali mana sentuhan yang baik dan tidak baik,” ujar Yaya, Rabu (9/7).

Menurutnya, edukasi seksual bagi anak disabilitas bukan perkara mudah. Dibutuhkan pendekatan khusus, terapi dan pemahaman yang berkelanjutan dari orang tua dan lingkungan sekitar. Pendampingan ini harus dilakukan secara sabar dan konsisten, guna membangun rasa percaya diri dan perlindungan diri anak.

“Memberikan pemahaman kepada anak disabilitas memerlukan langkah preventif yang terus-menerus, tidak bisa instan. Harus melalui proses terapi dan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak,” jelasnya.

Ia menambahkan, banyak kasus kekerasan seksual terjadi karena kurangnya edukasi dasar kepada anak, seperti mengenali orang asing, memahami batasan tubuh, serta membedakan perilaku yang menyenangkan dan tidak menyenangkan.

“Anak-anak ini sangat rentan jika tidak diberikan pemahaman sejak dini tentang siapa yang boleh menyentuh mereka dan dalam kondisi seperti apa, misalnya saat diperiksa dokter pun harus tetap dalam pengawasan orang tua,” tegas Yaya.

Satgas PPA mengajak seluruh orang tua yang memiliki anak disabilitas untuk secara aktif mengajarkan anak mereka tentang perbedaan gender, area tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain, serta bentuk-bentuk kekerasan seksual.

“Ajari anak mengenal tubuhnya. Sentuhan apa yang boleh dan tidak boleh, serta siapa saja yang boleh melakukan itu, dan kapan. Ini bentuk perlindungan paling dasar agar mereka tidak menjadi korban,” pungkasnya. mak

 

-
-
-