OPINI

Stop Dugaan Rekayasa Opini! Rektor UPR Jangan Dijauhkan dari Akar Dayak

140
×

Stop Dugaan Rekayasa Opini! Rektor UPR Jangan Dijauhkan dari Akar Dayak

Sebarkan artikel ini
Stop Dugaan Rekayasa Opini! Rektor UPR Jangan Dijauhkan dari Akar Dayak

TABENGAN.CO.ID-Universitas Palangka Raya (UPR) bukan sekadar deretan gedung beton dan angka-angka statistik. UPR adalah rahim intelektual yang lahir dari darah, keringat, dan air mata para tokoh Dayak terdahulu yang bermimpi melihat anak cucunya menjadi tuan di tanah sendiri.

Namun, baru-baru ini, sebuah hasil poling muncul ke permukaan dengan narasi yang diduga untuk menggiring opini dan mengklaim 88,32 persen responden ( mahasiswa ), menyatakan kurang relevan jika Rektor UPR harus berasal dari daerah lokal.

Sebagai putra asli Dayak yang sudah puluhan tahun menggeluti dunia jurnalistik, saya menilai, poling ini lebih mirip alat propaganda dan diduga  muncul hanya untuk menggiring opini publik demi memuluskan agenda pihak tertentu.

Sangat naif jika kita menelan mentah-mentah persentase tersebut, dan masyarakat Dayak harus hati-hati, karena diduga ada upaya sistematis untuk membenturkan mahasiswa dengan semangat kearifan lokal.

Menggaungkan narasi bahwa “asal daerah tidak penting, atau kurang relevan” muncul di tengah upaya masyarakat adat memperjuangkan representasi intelektual, dan ini adalah bentuk pelecehan halus.

Seolah-olah, menjadi putra daerah berarti tidak berkompeten, dan menjadi orang luar otomatis membawa kemajuan. Ini logika cacat yang sengaja dihembuskan untuk menciptakan rasa rendah diri di kalangan akademisi lokal.

Perlu diingat, bahwa Rektor UPR bukan sekadar manajer administratif. Ia adalah simbol kepemimpinan yang harus memahami denyut nadi sosiologis Kalteng.

Kita tidak sedang bicara tentang sentimen kesukuan yang sempit. Kita bicara tentang keadilan akses dan martabat. Kalimantan Tengah memiliki segudang profesor dan doktor putra daerah yang kualitasnya tidak kalah dengan lulusan luar negeri. Jika di rumahnya sendiri saja mereka dihambat untuk memimpin melalui penggiringan opini publik, lalu di mana lagi mereka harus mengabdi?

Hasil poling yang mengeklaim suara mayoritas mahasiswa mengatakan, kurang relevan jika Rektor UPR harus berasal dari daerah lokal, patut dicurigai sebagai upaya menjadikan mahasiswa sebagai tameng kepentingan politik tertentu. Mahasiswa yang haus akan perubahan diduga disuapi narasi palsu bahwa kemajuan hanya bisa datang dari luar.

Kita harus lawan! Jangan biarkan Rektor UPR dicabut dari akar Dayak. Jangan biarkan angka-angka statistik yang meragukan mendikte masa depan kepemimpinan di tanah Borneo. Jika survei ini dimaksudkan untuk membungkam langkah putra daerah, maka mereka salah besar.

Tulisan ini adalah peringatan: Kami tidak buta. Kami tahu perbedaan antara aspirasi murni dan “pesanan politik”. UPR adalah kehormatan kami, dan kehormatan tidak bisa dibeli dengan poling recehan.

Ririen Binti

Jurnalis Dayak

  • Disusun dari berbagai sumber

Ririen Binti
Jurnalis Dayak