DPRD PROV. KALTENG

Ironis, Hasil Tangkapan Laut Kalteng Banyak Mengalir ke Luar Daerah

98
×

Ironis, Hasil Tangkapan Laut Kalteng Banyak Mengalir ke Luar Daerah

Sebarkan artikel ini
Ironis, Hasil Tangkapan Laut Kalteng Banyak Mengalir ke Luar Daerah
Kepala Dislutkan Provinsi Kalteng Sri Widanarni dan Ketua Komisi II DPRD Kalteng Hj Siti Nafsiah

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Hasil tangkapan laut dari Kalimantan Tengah (Kalteng) masih banyak dipasarkan ke provinsi tetangga, khususnya Kalimantan Selatan (Kalsel), terutama melalui wilayah perbatasan seperti Kabupaten Pulang Pisau. Kondisi ini dinilai berdampak pada belum optimalnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor perikanan.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Provinsi Kalteng Sri Widanarni mengakui adanya fenomena tersebut dan menyebutnya sebagai pekerjaan rumah yang perlu segera ditangani oleh pemerintah daerah.

Ketua Komisi II DPRD Kalteng Hj Siti Nafsiah menilai, arus distribusi hasil perikanan ke luar daerah merupakan bagian dari dinamika ekonomi yang wajar. Namun, di sisi lain, hal ini juga menunjukkan masih perlunya penguatan sistem perdagangan di dalam daerah.

“Fenomena hasil perikanan laut Kalimantan Tengah yang dipasarkan ke luar provinsi secara awam dipandang sebagai bagian dari dinamika ekonomi yang dipengaruhi oleh pertimbangan harga, akses pasar, dan efisiensi distribusi,” ujarnya, Minggu (26/4/2026).

Sekretaris Fraksi Golkar ini menambahkan, dalam kondisi tertentu nelayan akan memilih jalur pemasaran yang memberikan nilai ekonomi lebih baik. “Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme pasar berjalan secara rasional, namun sekaligus menjadi indikator bahwa daya saing sistem perdagangan dan distribusi di dalam daerah masih perlu diperkuat,” lanjutnya.

Dari perspektif pembangunan daerah, kondisi ini menjadi perhatian karena berimplikasi pada belum optimalnya nilai tambah yang dihasilkan di dalam wilayah Kalteng. Padahal, produksi perikanan tangkap pada tahun 2025 tercatat cukup tinggi, yakni mencapai lebih dari 159 ribu ton.

“Potensi ini seharusnya dapat lebih mendorong penguatan ekonomi lokal apabila didukung oleh sistem tata niaga dan pemasaran yang lebih kompetitif di dalam daerah,” katanya.

Ia juga menyoroti kondisi di wilayah seperti Pulang Pisau yang masih menghadapi keterbatasan akses dan infrastruktur. Minimnya sarana pendukung seperti pelabuhan perikanan, tempat pelelangan ikan, sistem rantai dingin, serta konektivitas distribusi menyebabkan hasil tangkapan lebih banyak mengalir ke wilayah yang lebih mudah dijangkau.

“Ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi tidak hanya bersifat teknis sektoral, tetapi juga menyangkut struktur logistik dan konektivitas wilayah secara keseluruhan,” tegasnya.

Untuk itu, ia mendorong Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi agar memperkuat daya saing harga dan akses pasar di dalam daerah. Dengan demikian, nelayan memiliki alternatif pemasaran yang layak tanpa harus bergantung pada pasar luar.

Di sisi lain, peningkatan infrastruktur di wilayah perbatasan seperti Pulang Pisau juga dinilai menjadi langkah penting. Upaya tersebut diharapkan dapat dilakukan secara terintegrasi agar capaian produksi yang sudah baik dapat diikuti dengan peningkatan nilai tambah, daya saing, serta kesejahteraan masyarakat.

“Penguatan sistem distribusi dan infrastruktur menjadi kunci agar potensi besar sektor perikanan ini benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi daerah,” pungkasnya. jef/ded-red