-
Spirit Kalteng

‎Raih Gelar Doktor UI, Nurhalina Ungkap Ancaman Merkuri terhadap Status Gizi Balita di Kawasan Tambang Emas

236
×

‎Raih Gelar Doktor UI, Nurhalina Ungkap Ancaman Merkuri terhadap Status Gizi Balita di Kawasan Tambang Emas

Sebarkan artikel ini
-

‎Dr. Nurhalina raih gelar Doktor setelah berhasil dalam Program Doktor (S3) Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI). FOTO ISTIMEWA

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Mahasiswa Program Doktor (S3) Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Nurhalina, resmi meraih gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor yang digelar di Aula FKM UI, Jumat (26/6/2026).

‎Dalam sidang tersebut, Nurhalina mempresentasikan disertasi berjudul “Dampak Pajanan Merkuri terhadap Status Gizi Balita di Daerah Pertambangan Emas Skala Kecil Kabupaten Gunung Mas”, yang menyoroti keterkaitan antara pencemaran merkuri dan meningkatnya risiko gangguan gizi pada anak usia balita.

‎Penelitian itu berangkat dari keprihatinan terhadap masih tingginya angka malnutrisi anak, terutama di wilayah yang terdampak aktivitas pertambangan emas skala kecil.

‎‎”Dalam beberapa tahun terakhir, strategi pengendalian malnutrisi telah menurunkan prevalensi stunting, gizi kurang/buruk, dan underweight, namun capaian tersebut belum memenuhi target SDGs sampai tahun 2030,” ujar Nurhalina saat memaparkan hasil penelitiannya.

‎‎Ia menjelaskan, selama ini berbagai program penanggulangan malnutrisi lebih banyak berfokus pada intervensi gizi, sementara faktor lingkungan, khususnya paparan logam berat seperti merkuri, masih belum menjadi perhatian utama.

‎‎”Selama ini pencegahan masalah gizi masih berfokus pada intervensi gizi, namun belum memperhatikan keterlibatan pajanan logam berat seperti merkuri dalam kerangka kerja global karena minimnya penelitian terkait,” katanya.

‎Dalam disertasinya, Nurhalina mengungkapkan bahwa merkuri dapat memengaruhi berbagai proses metabolisme penting dalam tubuh anak.

‎”Dampaknya, merkuri menginaktivasi enzim untuk metabolisme karbohidrat, menghambat sintesis protein, menghambat aktivitas antioksidan, meningkatkan peroksidase lipid, serta mengganggu penyerapan vitamin dan mineral,” jelasnya.

‎Penelitian dilakukan menggunakan metode cross-sectional terhadap 146 balita yang tinggal di kawasan pertambangan emas skala kecil di Kabupaten Gunung Mas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan merkuri pada balita terutama berasal dari konsumsi ikan yang telah terkontaminasi.

‎Temuan penelitian menunjukkan konsentrasi merkuri pada rambut menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap status gizi balita. Balita dengan kadar merkuri rambut sebesar ≥0,163 mg/kg memiliki risiko 19,4 kali lebih besar mengalami gizi kurang atau gizi buruk, 8,4 kali lebih tinggi mengalami stunting, serta 18,8 kali lebih berisiko mengalami underweight dibandingkan balita dengan kadar merkuri lebih rendah.

‎‎Berdasarkan hasil tersebut, Nurhalina mendorong pemerintah untuk memperkuat kebijakan pengendalian pencemaran merkuri, meningkatkan pemantauan keamanan pangan dan paparan logam berat secara berkala, serta memperkuat intervensi kesehatan bagi masyarakat di wilayah terdampak.

‎”Kami merekomendasikan integrasi intervensi gizi dan kesehatan lingkungan dalam kerangka kerja nasional untuk pencegahan dan tatalaksana malnutrisi di Indonesia, khususnya di daerah-daerah dengan pajanan merkuri yang tinggi,” pungkasnya.

Untuk diketahui, sidang promosi doktor tersebut dipimpin Prof. Dr. drg. Ririn Arminsih Wulandari, M.Kes., dengan promotor Dr. dr. Tri Yunis Miko Wahyono, M.Sc., serta ko-promotor dr. Syahrizal Syarif, MPH., Ph.D., dan Prof. Drs. Apt. Bambang Wispriyono, Ph.D.

Tim penguji terdiri atas Prof. Dr. Besral, SKM., M.Sc., Dr. dr. Helda, M.Kes., dr. Soewarta Kosen, MPH., Dr.PH., dan Dr. Suwito, SKM., M.Kes., MH.

Penelitian ini diharapkan menjadi referensi ilmiah bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan penanganan malnutrisi yang tidak hanya berorientasi pada aspek pemenuhan gizi, tetapi juga mempertimbangkan faktor pencemaran lingkungan sebagai salah satu penyebab gangguan tumbuh kembang anak, khususnya di kawasan pertambangan emas skala kecil. mak/fwa-red.

 

 

 

 

 

-
-
-