PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Suasana sejumlah sekolah di Kota Palangka Raya tampak lebih ramai sejak pagi. Orang tua bersama putra-putrinya mulai mendatangi sekolah untuk mengikuti tahapan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026. Antusiasme tinggi terlihat, terutama di sekolah-sekolah yang selama ini menjadi pilihan utama masyarakat.
Namun, Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya mengingatkan agar orang tua tidak hanya mengejar sekolah tertentu, melainkan mempertimbangkan jarak tempat tinggal agar proses belajar anak berjalan lebih nyaman.
Wakil Wali Kota Palangka Raya Achmad Zaini mengatakan, pendaftaran murid mulai dibuka pada 29 Juni hingga 1 Juli 2026 sesuai jadwal yang telah diumumkan pemerintah daerah.
“Mulai tanggal 29 Juni masyarakat Kota Palangka Raya yang putra-putrinya sudah lulus SD dipersilakan mendaftar. Waktu pendaftaran diberikan sampai tanggal 1 Juli,” ujar Achmad Zaini saat meninjau pelaksanaan SPMB di SMP Negeri 2 Palangka Raya, Senin (29/6/2026).
Ia menjelaskan, Kota Palangka Raya memiliki 26 satuan pendidikan tingkat SMP yang dapat menjadi pilihan masyarakat.
Dalam pelaksanaan SPMB tahun ini, terdapat empat jalur penerimaan. Jalur domisili atau yang sebelumnya dikenal sebagai zonasi mendapat kuota 45 persen. Kemudian jalur afirmasi sebesar 20 persen bagi peserta didik yang memenuhi kriteria tertentu dengan melampirkan dokumen pendukung.
Sementara jalur prestasi diberikan kuota 30 persen, sedangkan jalur mutasi mendapat kuota 5 persen bagi calon peserta didik yang orang tuanya berpindah tugas ke Kota Palangka Raya.
“Kalau orang tuanya pindah tugas dari luar Palangka Raya ke Palangka Raya, sepanjang bisa menunjukkan surat keputusan pindah tugas, maka memiliki hak untuk mendaftar sekolah negeri,” jelasnya.
Saat melakukan pemantauan di SMPN 2 Palangka Raya, Achmad Zaini melihat antusias masyarakat cukup tinggi. Sekolah tersebut menjadi salah satu sekolah yang banyak diminati karena dianggap sebagai sekolah unggulan.
Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan anak masuk ke sekolah tertentu apabila jaraknya jauh dari tempat tinggal.
“Jangan hanya mengedepankan keinginan sekolah di tempat tertentu. Kalau ternyata domisilinya jauh, nanti bisa menjadi beban karena harus diantar, menggunakan kendaraan, atau biaya tambahan lainnya,” katanya.
Menurutnya, sekolah yang dekat dengan rumah justru dapat memberikan kemudahan bagi siswa dalam mengikuti pembelajaran.
“Yang terpenting proses belajar anak lebih mudah. Jangan sampai karena ingin sekolah tertentu, anak justru terbebani dan prestasinya terganggu,” ujarnya.
Ia juga menegaskan, seluruh SMPN di Palangka Raya terus didorong memiliki kualitas pembelajaran yang sama, sehingga masyarakat tidak perlu beranggapan hanya sekolah tertentu yang unggul.
“Kita sudah berusaha menyamakan kualitas. Tidak harus selalu SMP Negeri 1 atau SMP Negeri 2. Kalau semua menumpuk di sana juga kurang baik,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala SMPN 2 Palangka Raya Muhammad Ahmadi menyampaikan, antusiasme masyarakat pada hari pertama pendaftaran cukup tinggi. Hingga saat ini tercatat sekitar 94 calon siswa telah melakukan pendaftaran secara online.
Namun, proses verifikasi belum berjalan maksimal karena adanya kendala pada aplikasi penerimaan.
“Pendaftar sudah masuk sekitar 94 orang, tetapi kami belum bisa melakukan verifikasi karena ada kendala aplikasi. Dinas Pendidikan sedang berkoordinasi dengan Telkom untuk menyelesaikan masalah tersebut,” katanya.
SMPN 2 Palangka Raya tahun ini membuka kuota sebanyak 340 siswa atau 10 rombongan belajar. Khusus jalur domisili tersedia kuota 153 siswa.
Ahmadi menjelaskan, seleksi dilakukan secara sistem berdasarkan ketentuan masing-masing jalur. Untuk jalur domisili, peringkat calon siswa akan muncul berdasarkan jarak tempat tinggal dengan sekolah.
“Jarak dihitung langsung oleh aplikasi. Sekolah tidak bisa mengubah atau memanipulasi hasil. Kami hanya melakukan verifikasi data dan dokumen yang masuk,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan, pendaftar melalui jalur prestasi tetap harus mengikuti mekanisme penilaian. Prestasi individu memiliki bobot berbeda dibanding prestasi beregu, begitu pula tingkat prestasi mulai dari kota, provinsi, hingga nasional.
“Tidak semua pendaftar bisa diterima karena kuota terbatas. Bagi yang belum diterima, kami berharap orang tua dapat memilih sekolah lain yang lokasinya lebih dekat,” ucapnya.
Sementara itu, suasana serupa juga terlihat di SDN 13 Palangka Raya. Kepala SDN 13 Palangka Raya Ni Kade Kartini mengatakan, cukup banyak orang tua datang sejak pagi untuk mengambil formulir pendaftaran.
Tahun ini SDN 13 membuka penerimaan melalui empat jalur, yaitu domisili, afirmasi, prestasi, dan mutasi.
“Untuk jalur pindahan bukan untuk kelas 1, tetapi kelas 2 sampai kelas 6. Biasanya ada siswa yang pindah karena mengikuti orang tua bekerja atau berpindah domisili,” jelasnya.
Untuk penerimaan kelas 1, SDN 13 Palangka Raya hanya membuka satu rombongan belajar dengan kuota 28 siswa karena keterbatasan ruang kelas dan tenaga pendidik.
“Seleksi dilakukan berdasarkan administrasi dan jalur penerimaan. Tidak ada tes masuk,” ujarnya.
Minat masyarakat terhadap SDN 13 disebut meningkat, salah satunya karena sekolah tersebut mulai menerapkan pembelajaran berbasis digital.
Sebagai Sekolah Rujukan Google, SDN 13 Palangka Raya telah menggunakan Chromebook dan perangkat digital dalam kegiatan belajar mengajar.
“Kelas 4, 5, dan 6 sudah menggunakan Chromebook sebagai media pembelajaran. Kami juga memiliki TV interaktif untuk mendukung proses belajar,” kata Ni Kade.
Ia berharap ke depan jumlah perangkat dapat bertambah. Saat ini sekolah memiliki sekitar 16 unit Chromebook, sementara kebutuhan ideal mencapai sekitar 60 unit.
“Kami berharap ada tambahan agar pembelajaran digital bisa berjalan lebih maksimal,” tuturnya.
Dengan dimulainya SPMB 2026, Pemko Palangka Raya berharap proses penerimaan murid baru berjalan tertib, transparan, dan memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh masyarakat. nws/fwa-red











