-
Spirit Kalteng

BMKG Ingatkan Panas Terik, Hotspot Meningkat, Kalteng Masuk Puncak Musim Kemarau

502
×

BMKG Ingatkan Panas Terik, Hotspot Meningkat, Kalteng Masuk Puncak Musim Kemarau

Sebarkan artikel ini
Foto : Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Chandra menunjukkan sebaran titik hotspot di Kalteng pada Jumat (10/7/2026). Dirmantio Evendy
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Memasuki puncak musim kemarau, jumlah titik panas (hotspot) di wilayah Kalimantan Tengah kembali mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil pemantauan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, pada Jumat (10/7/2026), terdeteksi sebanyak 137 hotspot yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.

Peningkatan jumlah titik panas tersebut menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) apabila tidak segera ditangani. BMKG mengingatkan seluruh pihak, terutama masyarakat yang berada di kawasan rawan, agar tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan maupun sampah selama musim kemarau berlangsung.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Chandra Mukti Wijaya menyampaikan bahwa pemantauan hotspot dilakukan setiap hari sebagai bagian dari sistem peringatan dini terhadap potensi karhutla di Kalteng.

“Dari hasil pemantauan hari ini terdapat 137 titik panas di wilayah Kalimantan Tengah. Data ini menjadi indikator yang harus diwaspadai bersama, terutama di daerah yang jumlah hotspot-nya cukup tinggi,” ujarnya saat ditemui wartawan.

Berdasarkan sebaran data BMKG, Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai 33 titik. Posisi berikutnya ditempati Lamandau dengan 23 titik, disusul Pulang Pisau sebanyak 19 titik, Kapuas 17 titik, dan Sukamara 13 titik.

Sementara itu, Gunung Mas tercatat memiliki 8 titik panas, Kotawaringin Barat 7 titik, Katingan dan Seruyan masing-masing 5 titik, Barito Timur serta Barito Utara masing-masing 2 titik, sedangkan Barito Selatan, Murung Raya, dan Kota Palangka Raya masing-masing terpantau 1 titik panas.

Menurut Chandra, keberadaan hotspot belum tentu menunjukkan telah terjadi kebakaran. Namun demikian, titik panas merupakan indikator awal yang harus segera ditindaklanjuti melalui pengecekan di lapangan oleh instansi terkait agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Ia menjelaskan, kondisi cuaca di Kalteng saat ini masih didominasi cerah berawan hingga berawan. Meski demikian, peluang hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih dapat terjadi secara lokal di beberapa wilayah dan berpotensi disertai petir maupun angin kencang.

“Kondisi cuaca memang masih memungkinkan adanya hujan di beberapa daerah. Namun masyarakat tetap harus meningkatkan kewaspadaan karena musim kemarau telah berlangsung dan potensi karhutla tetap ada,” jelasnya.

BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Selain berisiko memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, tindakan tersebut juga dapat menimbulkan kabut asap yang berdampak terhadap kesehatan maupun aktivitas masyarakat.

“Masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran lahan untuk tujuan apa pun serta terus memantau informasi cuaca terbaru dari BMKG sebagai langkah antisipasi terhadap potensi karhutla maupun cuaca ekstrem,” tegasnya.

Selain peran masyarakat, BMKG menilai sinergi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, serta seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam upaya pencegahan karhutla.

Dengan memasuki periode puncak musim kemarau pada Juli hingga Agustus, BMKG meminta seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran hutan maupun lahan di wilayah masing-masing sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.tio/fwa-red

 

-
-
-