-
Spirit Kalteng

BMKG: Suhu Udara Kalteng Berpotensi Capai 36 Derajat Celsius

287
×

BMKG: Suhu Udara Kalteng Berpotensi Capai 36 Derajat Celsius

Sebarkan artikel ini
-
Foto : Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya memantau perkembangan kondisi cuaca dan sebaran titik panas (hotspot) di Kalimantan Tengah, Jumat (17/7/2026).

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya mengingatkan masyarakat Kalimantan Tengah agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca yang masih dinamis selama sepekan ke depan.

Meskipun sebagian besar wilayah diprakirakan mengalami cuaca cerah berawan hingga berawan dengan suhu udara yang cukup tinggi, beberapa daerah di wilayah utara Kalimantan Tengah masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Lian Adriani menyampaikan, musim kemarau tahun ini diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober hingga November 2026. Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara pada siang hari terasa cukup terik.

“Suhu udara dalam beberapa hari ke depan diprakirakan berkisar antara 33 hingga 35 derajat Celsius dan pada kondisi tertentu dapat mencapai 36 derajat Celsius. Kondisi ini merupakan karakteristik yang umum terjadi pada musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober hingga November tahun ini,” ujarnya saat dikonfirmasi Tabengan pada Jumat (17/7/2026).

Selain suhu udara yang tinggi, kelembapan udara diprakirakan berada pada kisaran 50% hingga 95%. Sementara itu, angin umumnya bertiup dari arah utara hingga selatan dengan kecepatan antara 5 hingga 30 km/jam.

BMKG menjelaskan, meski cuaca secara umum didominasi kondisi cerah berawan hingga berawan, masyarakat di wilayah utara Kalimantan Tengah tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan sedang hingga lebat.

“Wilayah Murung Raya, bagian utara Gunung Mas, bagian utara Katingan, dan bagian utara Barito Utara perlu mewaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam beberapa hari ke depan,” jelasnya.

Sementara itu, wilayah lainnya di Kalteng juga masih berpotensi mengalami hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai petir atau kilat, angin kencang, bahkan angin puting beliung.

“Meskipun saat ini Kalimantan Tengah sedang memasuki musim kemarau, masyarakat tetap perlu mewaspadai potensi hujan lokal yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Cuaca ekstrem berupa petir, angin kencang, hingga puting beliung masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah,” bebernya.

Selain itu, BMKG juga mencatat masih adanya sebaran titik panas (hotspot) di sejumlah kabupaten dan kota di Kalteng. Berdasarkan hasil pemantauan pada Jumat (17/7/2026), terdeteksi 66 titik panas yang tersebar di 13 kabupaten dan satu kota.

Rinciannya, Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 17 titik, disusul Lamandau 15 titik, Kapuas 10 titik, Gunung Mas 4 titik, Barito Selatan 3 titik, Murung Raya 3 titik, Pulang Pisau 3 titik, Sukamara 3 titik, Barito Utara 2 titik, Katingan 2 titik, Seruyan 2 titik, Barito Timur 1 titik, serta Kota Palangka Raya 1 titik.

BMKG mengingatkan bahwa meningkatnya suhu udara selama musim kemarau berpotensi memperbesar risiko munculnya titik panas yang dapat berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan apabila tidak diantisipasi sejak dini.

“Selain memantau potensi hujan, kami juga terus memonitor perkembangan titik panas di Kalimantan Tengah. Masyarakat diharapkan tidak membuka lahan dengan cara membakar karena kondisi cuaca yang panas dan kering dapat mempercepat penyebaran api,” ungkapnya.

BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memperbarui informasi prakiraan cuaca melalui kanal resmi BMKG sebelum beraktivitas, terutama bagi masyarakat yang bekerja di luar ruangan, pelaku transportasi, petani, maupun pihak yang melakukan aktivitas di kawasan hutan dan lahan.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu serta bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau berlangsung,” pungkasnya. dte/fwa-red

 

 

-
-
-