Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kotim, dr Noorliyana,
SAMPIT/TABENGAN.CO.ID-Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur terus mendorong peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu, khususnya bagi ibu hamil yang memiliki faktor risiko tinggi. Salah satu inovasi yang dikembangkan yakni melalui program SIAGA IBU TERPADU (Sistem Informasi Integrasi Aksi Gerak Aman Ibu).
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kotim, dr Noorliyana, mengatakan, inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat pencatatan, deteksi dini, pemantauan, hingga tindak lanjut dan koordinasi rujukan bagi ibu hamil.
“SIAGA IBU TERPADU mendukung pendataan, deteksi dini, pemantauan, serta koordinasi tindak lanjut dan rujukan ibu hamil,” ujarnya Selasa (11/8).
Program tersebut menurutnya mulai diterapkan di wilayah kerja Puskesmas Ketapang II. Melalui sistem ini, pencatatan data ibu hamil yang sebelumnya dilakukan secara manual beralih ke sistem digital sehingga proses pendataan menjadi lebih cepat dan praktis.
Data ibu hamil dimasukkan melalui Google Form, kemudian tersimpan dalam Spreadsheet Database dan ditampilkan melalui Dashboard Monitoring. Petugas juga memanfaatkan Grup WhatsApp Rujukan Maternal untuk mempercepat koordinasi apabila ditemukan ibu hamil yang membutuhkan pemantauan atau rujukan.
Dari hasil penerapan awal, tercatat 82 ibu hamil telah masuk dalam sistem. Sebanyak 76 ibu atau 93 persen dinyatakan datanya telah lengkap. Seluruh data tersebut juga berhasil ditampilkan pada dashboard dan telah melalui proses pemeriksaan atau skrining risiko.
Sistem ini berhasil menemukan 28 ibu hamil dengan risiko tinggi serta tiga ibu hamil dengan risiko sangat tinggi. Dari 31 kasus tersebut, sebanyak 27 kasus atau 87 persen sudah ditindaklanjuti. Sementara empat kasus lainnya masih dalam proses pemeriksaan dan penjadwalan tindak lanjut.
Selain memperkuat deteksi risiko, SIAGA IBU TERPADU juga menunjukkan percepatan respons petugas terhadap kebutuhan rujukan. Rata-rata waktu respons tercatat 1 jam 35 menit, atau lebih cepat dari target maksimal dua jam.
Menurut dr Noorliyana, keberhasilan penanganan ibu hamil berisiko tidak hanya bergantung pada sistem digital, tetapi juga membutuhkan kerja sama lintas pihak.
SIAGA IBU TERPADU memperkuat koordinasi antara Dinkes, puskesmas, bidan, kader Posyandu, keluarga ibu hamil, dan rumah sakit rujukan. Dengan koordinasi tersebut, ibu hamil yang masuk kategori berisiko dapat diketahui lebih awal sehingga penanganan yang sesuai bisa segera diberikan.
Meski demikian, hasil evaluasi awal menunjukkan masih terdapat sejumlah hal yang perlu diperbaiki. Kepatuhan petugas dalam mengisi data sesuai prosedur baru mencapai 86,6 persen, sedangkan targetnya minimal 90 persen.
Karena itu, pendampingan, pemeriksaan kelengkapan data, serta pemantauan rutin akan terus ditingkatkan.
“Ke depan, SIAGA IBU TERPADU akan terus disempurnakan dan dipersiapkan untuk diterapkan secara bertahap di puskesmas lain di Kabupaten Kotawaringin Timur,” jelasnya.
Dengan penerapan sistem tersebut, Dinkes Kotim berharap pelayanan kesehatan ibu dapat menjadi lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi, sekaligus mengurangi keterlambatan dalam penanganan ibu hamil risiko tinggi. (May/jsi-red)











