PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalimantan Tengah (Kalteng) terus melonjak seiring meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga minggu ketiga Agustus 2026, Dinas Kesehatan Kalteng mencatat sebanyak 72.431 kasus ISPA di seluruh wilayah provinsi.
Plh Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kalteng Yaesarwawan mengatakan, tingginya kasus ISPA menjadi perhatian karena kondisi kemarau dan paparan kabut asap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat.
“Musim kemarau dan kabut asap akibat karhutla saat ini menjadi salah satu pemicu meningkatnya risiko gangguan kesehatan masyarakat, terutama ISPA. Selain ISPA, masyarakat juga perlu mewaspadai penyakit lain seperti DBD dan diare,” ujar Wawan, Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, masyarakat tidak hanya perlu mewaspadai asap, tetapi juga menjaga kondisi tubuh selama cuaca panas dan kering. Paparan debu serta asap dapat memperburuk kondisi kesehatan, khususnya bagi masyarakat yang memiliki penyakit penyerta.
“Kelompok yang paling berisiko adalah balita, lanjut usia, ibu hamil, penderita asma dan PPOK, serta masyarakat yang memiliki penyakit jantung dan hipertensi. Paparan debu dan asap dapat memperburuk kondisi mereka,” jelasnya.
Wawan mengatakan tingginya kasus tersebut belum menunjukkan adanya kematian yang dipastikan berkaitan langsung dengan dampak kemarau maupun karhutla.
“Sampai saat ini tidak ada kasus kematian yang dipastikan akibat dampak kemarau maupun karhutla. Namun, dengan kondisi cuaca dan kualitas udara yang tidak sehat, kasus ISPA masih berpotensi bertambah,” tegasnya.
Dinkes Kalteng memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan. Balita usia 0 hingga 5 tahun dinilai memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan saluran pernapasan, termasuk ISPA hingga pneumonia.
Sementara warga lanjut usia, terutama yang memiliki penyakit penyerta seperti asma, jantung dan PPOK, berpotensi mengalami sesak napas hingga kekambuhan penyakit ketika terpapar asap dan debu.
Ibu hamil juga diminta mengurangi paparan asap karena kondisi tersebut dapat berdampak terhadap kesehatan ibu dan janin. Begitu pula penderita asma dan PPOK yang memiliki saluran pernapasan lebih sensitif terhadap debu dan asap.
Masyarakat dengan penyakit jantung dan hipertensi juga diminta meningkatkan kewaspadaan karena kualitas udara buruk dapat memperberat kondisi kesehatan tertentu.
Dinkes Kalteng juga mencatat kualitas udara Palangka Raya pada Selasa (25/8/2026) pukul 07.51 WIB berada pada angka 128 AQI (US) atau masuk kategori tidak sehat.
Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk.
Wawan mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan gangguan pernapasan.
“Kalau mengalami keluhan seperti sesak napas, batuk atau gangguan pernapasan lainnya, jangan menunggu kondisi semakin berat. Segera periksa ke fasilitas pelayanan kesehatan,” imbaunya.
Menurutnya, upaya menjaga kesehatan masyarakat harus berjalan bersamaan dengan penanganan karhutla. Sebab, dampak asap tidak hanya berkaitan dengan kualitas lingkungan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko penyakit di tengah masyarakat.
Dinkes Kalteng memastikan pemantauan kondisi kesehatan masyarakat akan terus dilakukan seiring perkembangan musim kemarau dan potensi karhutla di wilayah Kalteng. Masyarakat pun diminta tetap waspada, khususnya kelompok rentan yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap paparan asap dan kualitas udara buruk. ldw/ded/red









