-
Hukrim

Terjebak Api, Relawan Karhutla Luka Bakar 75 Persen

172
×

Terjebak Api, Relawan Karhutla Luka Bakar 75 Persen

Sebarkan artikel ini
LUKA BAKAR-Anggota relawan BPK PKCM, Maulana Adi Saputra saat ditemui di kediamannya Jalan Tjilik Riwut Km 3.5, Minggu (30/8/2026).FOTO TABENGAN/DIRMANTIO
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Upaya menyelamatkan rumah warga dari kobaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) justru membuat seorang relawan Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) mengalami luka bakar serius.

Anggota relawan Pemadam Kebakaran Cinta Masyarakat (PKCM), Maulana Adi Saputra (20), mengalami luka bakar sekitar 75 persen setelah tubuhnya terkena sambaran api saat melakukan pemadaman karhutla di kawasan Jalan Yos Sudarso XVlll, Kota Palangka Raya, Senin (24/8/2026) pagi.

Maulana menceritakan, informasi mengenai kebakaran diterimanya sekitar pukul 09.00 WIB. Bersama rekan-rekan relawan lainnya, ia kemudian menuju lokasi.

Saat tiba, kondisi api sudah cukup besar dan merembet ke sejumlah bagian lahan. Tim awalnya melakukan pemadaman dari bagian pinggir. Namun, api yang berada di bagian dalam lahan masih terus menyala.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena lokasi kebakaran berada cukup dekat dengan permukiman warga.

“Kondisi api saat itu sudah sangat dekat dengan rumah warga. Jadi kami masuk ke dalam untuk berupaya memadamkan api agar tidak merembet ke arah rumah warga,” ujar Maulana saat ditemui di kediamannya, Minggu (30/8/2026) pagi.

Menurutnya, terdapat sekitar lima rumah warga yang berada di sekitar lokasi kebakaran. Di bagian belakang permukiman tersebut masih terdapat rumah lainnya, sehingga kondisi permukiman tergolong cukup padat.

Lebih lanjut, lahan yang terbakar merupakan lahan gambut yang dipenuhi semak belukar dan pepohonan. Ditambah kondisi angin yang cukup deras, api dengan cepat merembet dan berubah arah.

Maulana bersama sejumlah rekannya kemudian masuk ke bagian dalam untuk memadamkan api sekaligus mengamankan rumah warga yang berada paling dekat dengan titik kebakaran.

Namun, situasi berubah ketika api yang berada di bagian belakang merambat ke lahan kering lainnya.

“Awalnya api berada di sebelah kanan dan angin mengarah ke kiri. Saat saya keluar, arah angin berubah dengan cepat sehingga api mengarah ke badan saya,” lanjutnya.

Saat itu, Maulana menjadi relawan yang keluar paling terakhir. Api dari bagian belakang menutup akses keluar mereka. Ketika berusaha menyelamatkan diri, api menyambar tubuhnya hingga pakaian yang dikenakannya ikut terbakar.

“Api yang berada di belakang menyambar ke lahan kering lainnya dan menutup akses keluar kami. Kebetulan saya yang keluar terakhir. Saat berusaha keluar, api mengenai baju dan badan saya,” ungkapnya.

Meski tubuhnya terbakar, ia mengaku tidak sempat berteriak atau panik, hanya merasakan panas yang luar biasa. Rekan-rekannya yang berada di lokasi kemudian segera memberikan pertolongan.

Rekannya menyiramkan air ke tubuh Maulana untuk mengurangi rasa panas akibat luka bakar. Padahal, kondisi rekan-rekannya sendiri juga tidak baik.

Maulana mengatakan, sejumlah relawan yang berada di dalam lokasi kebakaran mengalami sesak akibat kepungan asap. Bahkan, ada yang muntah-muntah setelah berhasil keluar dari lokasi.

“Semua teman saya yang berada di dalam saat keluar itu muntah-muntah semua karena tidak bisa bernapas. Kami terkepung asap, api dan angin yang cukup deras. Semuanya menjadi satu saat kami berada di dalam,” katanya.

Saat kejadian, sumber air juga menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman. Tim mengandalkan suplai air dari mobil tangki untuk memadamkan kobaran api.

Di lokasi tersebut terdapat pula petugas dari Dinas Kehutanan yang membantu menyuplai air menggunakan mobil tangki. Secara keseluruhan, Maulana memperkirakan terdapat sekitar 30 orang yang berada di lapangan, termasuk relawan dan petugas.

Namun, menurut Maulana, saat kejadian tidak tersedia ambulans di lokasi. Para relawan juga belum dibekali alat pelindung diri (APD) yang lengkap untuk menghadapi kobaran api.

“Yang kami bawa saat itu hanya oksigen. Untuk alat pelindung diri yang lebih lengkap dan bisa memberikan perlindungan dari api, teman-teman relawan belum memilikinya,” katanya.

Setelah terkena api, Maulana masih berada di lokasi dan belum langsung dibawa ke rumah sakit. Ia baru menyadari kondisi luka bakarnya semakin parah setelah pulang dari lokasi pada malam hari.

Saat itu, luka bakar serta pembekuan darah di tangan dan bahu seblah kanan. Selain itu, mulai melepuh, bergelembung hingga mengeluarkan cairan.

“Malamnya setelah pulang dari lokasi, saya melihat badan sudah melepuh semua, bergelembung dan berair. Setelah itu baru saya dibawa ke RS Bhayangkara,” tuturnya.

Maulana kemudian mendapatkan penanganan medis selama kurang lebih dua hari di rumah sakit. Berdasarkan keterangan dokter, luka bakar yang dialaminya tergolong cukup parah, sekitar 75 persen dari tubuh.

Selama menjalani perawatan, biaya pengobatan untuk sementara ditanggung oleh orang tuanya. Maulana menyebut hingga saat ini belum menerima bantuan dari pemerintah daerah terkait biaya perawatan yang dijalaninya.

Meski mengalami luka cukup serius, Maulana mengaku kejadian tersebut tidak membuatnya menyesal menjadi relawan. Ia telah bergabung dalam dunia kerelawanan selama sekitar tiga hingga empat tahun.

Dari pengalaman tersebut, ia berharap penanganan karhutla di Kota Palangka Raya dapat segera dituntaskan. Ia juga berharap para relawan yang masih berjibaku di lapangan dapat lebih berhati-hati agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

“Harapannya semoga karhutka ini cepat tuntas dan padam, sehingga kita bisa melihat langit kembali biru. Untuk teman-teman yang masih di lapangan, semoga tidak terjadi lagi seperti yang saya alami,” pungkasnya. dte/fwa-red

 

-
-
-