-
Spirit Kalteng

16.258 Kasus ISPA di Palangka Raya, Ketersediaan Obat Dan Oksigen Dibutuhkan

180
×

16.258 Kasus ISPA di Palangka Raya, Ketersediaan Obat Dan Oksigen Dibutuhkan

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinkes Kota Palangka Raya Riduan  DAN Direktur RSUD Kota Palangka Raya Abram Sidi Winasis
-

+Dinkes Siapkan 11 Ruang Oksigen, Stok Masker Capai 10 Ribu Lebih

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali menebal dalam tiga hari terakhir membuat ancaman gangguan kesehatan masyarakat di Kota Palangka Raya semakin menjadi perhatian. Menurut data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah, sepanjang Januari hingga minggu ke-3 Agustus tercatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Palangka Raya sebanyak 16.258.

Jumlah 16.258 kasus ini naik 92 penderita dan 6 hari, setelah sebelumnya Wali Kota Fairid Naparin pada Selasa (25/8/2026), menyampaikan bahwa kasus ISPA di Kota Palangka Raya mencapai 16.166 kasus.

Mengantisipasi meningkatnya keluhan akibat paparan asap, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palangka Raya memastikan fasilitas pelayanan kesehatan dan kebutuhan medis dalam kondisi siap.

Kepala Dinkes Kota Palangka Raya Riduan mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama ketika tidak memiliki kepentingan mendesak. Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan juga diminta menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap.

“Karena ada peningkatan kabut asap, kami mengimbau kepada masyarakat, karena asap tebal sebaiknya tidak keluar rumah kalau tidak penting. Kalau keluar rumah pun harus memakai masker,” ujar Riduan, Senin (31/8/2026).

Selain perlindungan dari paparan asap, masyarakat juga diminta menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, memperbanyak minum air putih, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti batuk atau sesak napas.

“Pemerintah kota melalui Dinas Kesehatan menyiapkan 11 Puskesmas yang bisa dimanfaatkan warga jika mengalami sesak, ke ruang oksigen. Jadi gratis jika sewaktu-waktu memerlukan,” jelasnya.

Selain itu, terdapat empat Puskesmas yang memberikan pelayanan selama 24 jam. Dinkes juga menggandeng Ikatan Bidan Indonesia (IBI) agar sejumlah bidan praktik turut membuka layanan oksigen bagi masyarakat yang membutuhkan.

Tak hanya fasilitas kesehatan, upaya perlindungan masyarakat juga dilakukan melalui pembagian masker. Riduan menyebut stok masker masih tersedia dan Dinkes berencana kembali membagikannya kepada masyarakat di sejumlah titik, termasuk kawasan Bundaran Besar, dengan menyesuaikan wilayah kerja puskesmas.

“Stok kita tersedia, karena begitu ada kabut asap kita juga langsung pesan. Stok kita lebih dari 10 ribu,” ungkapnya.

Di tengah kondisi kabut asap yang kembali pekat, partisipasi masyarakat dan berbagai organisasi dalam menyediakan ruang oksigen juga mendapat apresiasi dari Dinkes. Salah satunya Palang Merah Indonesia (PMI) yang membuka layanan ruang oksigen di Jalan AIS Nasution.

Dari sisi rumah sakit, Direktur RSUD Kota Palangka Raya Abram Sidi Winasis mengatakan, pihaknya terus memantau jumlah kunjungan dan berbagai penyakit yang berpotensi berkaitan dengan paparan asap karhutla.

Pemantauan tersebut mencakup kasus ISPA, gangguan pernapasan, asma, hingga keluhan iritasi pada mata dan tenggorokan.

Menurut data yang dimiliki oleh RSUD Kota Palangka Raya, pada Agustus tercatat 14 kasus yang telah ditangani dengan rincian, poli penyakit dalam 7 kasus, IGD 6 kasus dan poli anak 1 kasus.

“Secara umum memang, ada peningkatan tapi masih dalam batas wajar dan tidak signifikan, memang pada kondisi kualitas udara yang menurun, masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta pasien yang memiliki penyakit pernapasan atau penyakit kronis, lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan,” katanya.

Untuk memastikan pelayanan tetap berjalan, RSUD Palangka Raya juga terus melakukan pemantauan terhadap ketersediaan obat-obatan dan oksigen. Pengadaan serta koordinasi dilakukan secara berkala untuk mengantisipasi kemungkinan meningkatnya kebutuhan akibat gangguan pernapasan.

“Stok obat dan oksigen merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian utama kami, khususnya dalam menghadapi kemungkinan peningkatan pasien dengan gangguan pernapasan,” pungkasnya. nws/fwa-red

 

-
-
-