PANGKALAN BUN/TABENGAN.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat akan mengagendakan event tahun ritual memandikan meriam beranak. Kegiatan tersebut merupakan upaya mempertahankan melestarikan budaya lokal. Hal ini disampaikan Asisten I Setda Kobar Tengku Alisyahbana pada acara memandikan meriam beranak di Astana Al Nursari, Kecamatan Kotawaringin Lama.
Tengku Alisyahbana atau yang akrab disapa Bang Ale ini menyampaikan, ritual memandikan meriam beranak ini juga salah satu ikhtiar meminta diturunkan hujan, mengingat Kotawaringin Barat saat ini tengah dilanda bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dampak kemarau panjang, sehingga berbagai cara dilaksanakan agar Allah SWT segera menurunkan hujan untuk Bumi Marunting Batu Aji ini.
“Ritual memandikan meriam beranak di Kotawaringin ini merupakan ritual peninggalan kerajaan Kutaringin. Dalam kegiatan tersebut sejumlah benda pusaka meriam kuno peninggalan sejarah yang disimpan di kompleks Astana Al-Nursari di Kecamatan Kotawaringin Lama, dilakukan prosesi dibersihkan. Kami sangat meyakini kegiatan ini akan mendatangkan hujan seperti yang sering dilakukan oleh para pendahalu kita,” ujar Bang Ale, Sabtu (26/9/2026).
Bang Ale pun menyampaikan bahwa lokasi penyimpanan meriam beranak berada di Gedung Paagongan dalam kompleks Astana Al-Nursari, istana atau kediaman keturunan Kerajaan Kotawaringin. Meriam beranak sendiri berjumlah sekitar 7 hingga 8 buah meriam berukuran kecil hingga besar.
Meriam ini merupakan milik masyarakat/suku Dayak yang kemudian diserahkan kepada pihak Kerajaan Kotawaringin. Hingga saat ini lokasi penyimpanan meriam masih sering dikunjungi oleh masyarakat, termasuk warga Dayak yang datang untuk berziarah atau menghormati nilai historisnya.
“Berdasarkan usulan dari kekerabatan Astana Al-Nursari, maka ritual memandikan meriam beranak ini akan dijadikan agenda tahunan Kabupaten Kotawaringin Barat. Hanya untuk momennya akan kita lihat ke depannya. Jika saat ini kita meminta diturunkan hujan, akan tetapi kegiatan ini akan kita laksanakan sebagai bentuk penghormatan kita pada kebudayaan dan adat istiadat lokal,” ujar Bang Ale.
Pantauan Tabengan di lapangan, ritual memandikan meriam beranak ini sebagai gambaran kekompakan dan kerukunan masyarakat Kobar, sebab pada ritual tersebut secara gotong royong masyarakat membawa meriam beranak ke lokasi ritual memandikan, diiringi dengan doa. Prosesi memandikan pun begitu sakral.
Usai prosesi memandikan meriam beranak selesai, acara selanjutnya dilanjutkan dengan upacara Beigal, dalam ritual memandikan meriam beranak ini perpaduan antara kebudayaan Kerajaan Kutaringin dan adat Dayak. Antara keduanya telah terikat tali persaudaraan yang saat kuat, hingga saat ini trafo tersebut tetap dilestarikan.
Usai kegiatan ritual memandikan meriam beranak, langit Kecamatan Kotawaringin Lama dan sekitarnya pun gelap dan tidak lama kemudian turun hujan deras. Bukan saja di Kecamatan Kotawaringin Lama, tetapi beberapa wilayah di Kotawaringin Barat pun mulai dirahmati Allah SWT dengan turun hujan deras. uli/jsi-red











