PALANGKA RAYA/tabengan.co.id- Perubahan dan percepatan di bidang teknologi perbankan memunculkan ancaman baru yang disebut “kiamat teller.” Mengamati fenomena tersebut, pengamat ekonomi Kalimantan Tengah Fitria Husnatarina mengemukakan, bukan hanya pekerjaan sebagai teller yang terancam hilang, tapi ada beberapa jenis pekerjaan yang dapat hilang dan akan digantikan oleh sebuah sistem IT.
Karena itu, ungkap Direktur Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia Kampus UPR tersebut, hilangnya beberapa bentuk pekerjaan karena perubahan yang destruktif dan cepat merupakan sebuah keniscayaan.
Salah satunya adalah pekerjaan sebagai teller atau beberapa pekerjaan lain yang awalnya sebagai bentuk layanan kepada nasabah ataupun dalam rangka mengakomodasi layanan kepada banyak orang, akan pelan-pelan hilang dalam jangka waktu yang tidak akan lama.
Menurut Fitria, perubahan ini sebagai bentuk dari proses adaptasi perusahaan dan organisasi perbankan untuk menjaga keberlangsungan hidupnya dalam jangka waktu panjang.
“Logikanya adalah jika salah satu atau beberapa pekerjaan hilang dan digantikan oleh teknologi informasi, yakin dan percaya bahwa ada bentuk kebutuhan lainnya yang sangat membuka peluang bagi perbankan bisa melakukan switching knowledge bagi karyawannya yang sebelumnya menjadi teller,” katanya kepada Tabengan, Sabtu (26/3/2022).
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Palangka Raya (UPR) itu menyarankan, yang harus dilakukan perbankan adalah mempersiapkan karyawannya ke arah sana, dengan melakukan pelatihan dan peningkatan kapasitas lainnya.
Tetapi memang tidak mudah untuk create demand. Apa yang menjadi kebutuhan pasar dengan sebuah kenyamanan dan keamanan layanan plus kemudahan bertransaksi menjadi bagian yang harus diintegrasikan ke dalam pekerjaan-pekerjaan baru di masa depan.
Selanjutnya, jika kemudian bank menjadi bergerak ke arah digitalisasi, tentunya membutuhkan karyawan yang menguasai big data, menguasai aplikasi-aplikasi tertentu, menciptakan banking marketing yang menarik, layanan financial teknologi yang memenuhi semua kebutuhan nasabah dalam 1 genggaman gadget.
Menurutnya, ini peluang besar sekali untuk dijadikan sebagai konversi dari teller konvensional menjadi pakar dalam digitalisasi. Bukan tidak mungkin nasabah tidak hanya akan berasal dari lokal maupun indonesia, jika pengusaan teknologi keuangan yang menembus aktivitas global, niscaya aktivitas perbankan menjadi lebih variatif dan kompetitif lagi.
“Artinya bahwa menghilangnya sebuah pekerjaan sebuah keniscayaan karena perubahan zaman, tetapi munculnya pekerjaan baru juga sebuah keniscayaan karena zaman membutuhkannya,” tandasnya. dsn
“Kiamat Teller” Itu Keniscayaan











