KUALA KAPUAS/TABENGAN.CO.ID– Kurangnya distribusi pupuk yang diperlukan para petani di wilayah Kecamatan Kapuas Timur, Tamban Catur dan Kapuas Kuala, diduga salah satu faktor yang menyebabkan sebagian petani di 3 kecamatan di Kabupaten Kapuas tersebut terikat perjanjian dengan para pengepul.
Hal ini tentu saja sangat berdampak dengan hasil produksi gabah atau padi yang dipanen. Walaupun produksi padi melimpah, tapi hasilnya justru dinikmati oleh para pengepul yang diketahui berasal dari kabupaten tetangga, Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan.
Sebab, demi memenuhi kebutuhan pupuk pada saat penanaman sampai panen, petani telah terikat janji dengan pengepul tersebut. Mereka diberikan pupuk sesuai yang dibutuhkan, dengan perjanjian akan dibayar dengan gabah atau padi dari hasil panen.
Sebab distribusi pupuk bersubsidi yang diberikan oleh produsen resmi tidak sesuai dengan kebutuhan, sehingga pada saat penanaman selalu kurang, petani terpaksa mencari keluar, bahkan beli pupuk yang non subsidi.
Seperti yang diungkapkan Kepala Desa Wargomulyo Sukardi, saat dibincangi media ini melalui telepon, Rabu (31/8), di masa tanam normal untuk distribusi pupuk ke wilayahnya dinilai masih belum mencukupi. Masih banyak petani di wilayahnya harus mencari keluar desa, bahkan ke Kalsel, bahkan membeli pupuk yang non subsidi dengan kisaran harga sampai Rp250 ribu/sak.
“Itulah dilema petani kami pak. Saya berharap ini dapat menjadi perhatian serius dari Dinas Pertanian. Walaupun di daerah saya tidak ada yang terjerat dengan pengepul, namun kurangnya distribusi pupuk ini juga sangat menyulitkan, terlebih harganya yang subsidi itu kisaran Rp160-180 ribu/sak, yang non subsidi bisa mencapai Rp250 ribu,” katanya. c-yul











