PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Pengamat Ekonomi Kalteng, Fitria Husnatarina memberi penjelasan terkait pernyataan IMF bahwa “Ekonomi Indonesia menjadi Terang bagi ekonomi dunia”.
Disebutkan Fitria yang juga adalah Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Palangka Raya itu, yang menjadi alasan dari Statemen IMF, karena Indonesia berada dalam rentang angka inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang stabil.
“Jadi pembandingnya bukan data sebelum pandemi Covid, tapi kemudian data ketika posisi Indonesia masih Covid dan data pembanding lainnya adalah data pertumbuhan ekonomi Indonesia di banding negara Asia lainnya. Bahkan Eropa dan beberapa negara yang juga sedang berusaha untuk bangkit dan data inflasi,” bebernya kepada Tabengan, Kamis (13/10).
Sehingga, lanjut Mantan Ketua Ikatan Akuntansi Indonesia Kalimantan Tengah itu, Indonesia dinilai masih direntang batas ‘di bawah ambang batas atas.
Jadi pergerakan-pergerakan yang ditakutkan dari angka inflasi yang signifikan naik akibat pencabutan subsidi ini, dinilai masih bisa terkontrol. Ini adalah sebuah prestasi.
“Saya juga berpendapat, ini sebuah prestasi dari pemerintah Indonesia untuk menahan lajunya,” ungkapnya.
Selain itu, apakah kemudian, digitnya akan selalu bertambah pergerakannya, Fitria memprediksi bisa terjadi. Mengingat secara krusialnya, mendekati akhir-akhir tahun, kebutuhan pasti melonjak. Terutama di akhir tahun ini.
Dan kalau Indonesia menjadi representasi atau cerminan sebuah bentuk kestabilan managemen kenegaraan di bidang perekonomian, tentunya IMF akan membandingkan juga dengan negara lain yang inflasinya kini naik tinggi.
Menurut Fitria, hal ini bukan sekedar kiasan tapi ini kepada sebuah apresiasi. Pada posisi kelangkaan energi, pangan, posisi Indonesia masih mampu mengelola itu semua.
“Inilah yang menjadi poin penting dari statemen IMF. Jadi artinya bahwa progres ke depan dari pertumbuhan ekonomi Indonesia ini cukup stabil, pergerakannya bisa dalam kontrol dengan managemen yang baik. Itu kenapa dasar IMF membuat statemen seperti itu,” bebernya.
Kemudian, bagaimana Indonesia dapat bertahan untuk rentang yang diharapkan. Direktur Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia Kampus UPR tersebut mengatakan tentunya pada ambang batas tertinggi diketahui apa saja yang berpotensi resiko untuk terjadinya turbulensi di Indonesia.
Fitria memastikan hal itu bisa diprediksi, seperti hal yang berkaitan pertumbuhan ekonomi, kemudian ada IKN dan ada program strategis nasional yang belum selesai.
Sehingga yang harus dilakukan adalah fokus Indonesia pada program-program strategis yang sudah dicanangkan pemerintah, apa yang strategis dan sudah berjalan.dsn











