PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Gangguan Ginjal Akut pada Anak (GGAPA) sudah merambah Kalimantan Tengah (Kalteng). Data sementara, ada 3 kasus dari Kalteng, 2 kasus ditemukan di Kalteng dan 1 kasus menjalani perawatan di RS Soetomo Surabaya. Dua di antaranya meninggal dunia dan 1 lagi pulang dari rumah sakit atas permintaan keluarga dan sampai saat ini belum ada informasi terbaru.
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah dr Doris Sylvanus Palangka Raya drg Yayu Indriaty Sp.KGA menyampaikan, 2 kasus kematian tersebut, salah satunya di RS Doris Sylvanus. Gejalanya mengalami demam, batuk pilek, kemudian muntah, diare, penurunan kesadaran dan bengkak badannya.
“Pasien anak usia 3,6 tahun curiga menderita penyakit Gagal Ginjal Akut Atipik Progresif dengan differensial diagnosa atau penyakit lain dengan gejala sama yakni demam berdarah. Saat masuk dalam keadaan sakit berat. penurunan kesadaran, muntah-muntah, badannya mulai bengkak. Tapi saat masuk di IGD suhu sudah tidak demam lagi 36,2 derajat Celsius. Alamat Karason Raya, Tewah, masuk IGD tanggal 27 Oktober 2022 pukul 00.53 WIB. Sampai di IGD RS Doris kami melakukan stabilisasi perawatan gawat daruratnya, tetapi tidak tertolong dan meninggal di IGD tanggal 28 Oktober 2022 pukul 01.50 WIB,” kata Yayu, Rabu (2/11).
Pada saat pasien tersebut datang ke IGD, diagnosa yang dikeluarkan saat itu gagal ginjal akut. Kemudian tim medis terus pelajari kemudian komunikasikan dengan Dinas Kesehatan Provinsi dan keluarga pasien untuk keperluan data. Keesokan harinya, Dinas Kesehatan sudah melakukan Penyelidikan Epidemiologis (PE) kepada keluarga dan RS masih menunggu hasil PE seperti apa.
Kemudian hasil wawancara awal dengan keluarga pasien keterangan dari hasil anamnesis atau wawancara awal ke keluarga pasien, sebelumnya dibawa ke rumah sakit, pasien konsumsi sirup Termorex, namun hal itu merupakan salah satu bagian dari penyelidikan Epidemiologis juga.
RS Doris juga meminta agar pada saat wawancara minta sisa obat yang dikonsumsi pasien untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Supaya bisa membuktikan bahwa memang penyebabnya obat tersebut atau karena hal lain.
Untuk ketersediaan obat-obatan, RS Doris sudah berkoordinasi dengan Dinkes untuk meminta stoknya ke pemerintah pusat sebagai bentuk antisipasi sehingga tidak menunggu apabila ada kasus yang di curigai mengarah gangguan ginjal akut pada anak, sehingga kita bisa memberikan terapi yang benar.
Sementara itu di RS Doris tidak ada tempat khusus yang disiapkan. Untuk perawatan gunakan bangsal anak, seluruh dokter anak dan lain-lain terus saja berkomunikasi dengan info terbaru dari Kemenkes untuk terapi apabila terjadi kasus seperti ini.
Untuk perlakuan terhadap pasien gagal ginjal akut, RS melakukan terapi sesuai dengan kasus dan keadaan klinis yang ada. Namun, apabila memang ternyata positif gagal ginjal dan harus cuci darah, pasien akan dirujuk keluar karena di rumah sakit doris belum bisa melakukan cuci darah pasien anak, namun sedang menuju kearah sana untuk melakukan cuci darah anak di RS Doris.
Yayu mengimbau orang tua yang memiliki anak kemudian sakit, demam, mual, muntah, diare agar berhari-hati. Bisa dirawat di rumah dikompres dan pakai baju tipis supaya menguap panasnya dan kemudian harap berkonsultasi ke fasilitas kesehatan nanti akan diberikan obat yang spesifik sesuai dengan keluhan yang dialami anak tersebut.
Untuk sementara tidak memberikan obat sendiri sampai ada edaran lebih lanjut dari pemerintah. Untuk sementara di Doris sesuai dengan indikasi ada obat yang bisa diganti dengan puyer. yml











