+95 Warga Kapuas Positiv HIV/AIDS, 25 Meninggal Dunia
+LSL Penyumbang HIV/AIDS Terbesar
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID- Kasus Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mendapat perhatian serius dari semua pihak.
Berdasarkan data yang diterima HU Tabengan, Rabu (7/12), dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng, dari Januari-Juli 2022 jumlahnya sebanyak 186 kasus dengan kategori berbagai usia. Dari jumlah tersebut, perempuan sebanyak 50 kasus, laki-laki 136.
Berdasarkan kategori usia, usia di bawah 4 tahun 2 orang, 5-14 tahun 4 orang, 15-19 tahun 8 orang, usia 20-24 tahun 28 kasus, usia 25-49 tahun 131 kasus, usia 50 tahun keatas sebanyak 13 kasus.
Sementara itu kelompok resiko, paling banyak jumlahnya Lelaki Sama Lelaki (LSL) sebanyak 52 kasus, pasangan resiko tinggi seperti penyuka sesama jenis yang berhubungan seks dengan berganti-ganti pasangan sebanyak 8 kasus, pelanggan pekerja seks sebanyak 5 kasus dan lain-lain 40 kasus.
“Yang konfirmasi di kita itu banyak jumlahnya, saya kurang pasti bakunya tapi kurang lebih dua ribuan kasus, tapi masalahnya itu yang berobat itu kurang lebih 40 persen, kendalanya disitu, sehingga 60 persen tidak kontak dengan kita, menutup diri, sehingga resiko penularan besar,” kata kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng, dr. Suyuti Syamsul MPPM.
Namun Suyuti bantah dari data yang ada ada kenaikan jumlah kasus di Kalteng. Dinkes Provinsi Kalteng berusaha menghentikan kenaikan kasus melalui pendekatan dengan konsepnya seperti Covid-19. Isolasi mereka yang terdiagnosa tetapi tidak dalam bentuk ditempatkan dalam satu tempat, tetapi dengan memproteksi diri supaya tidak menyebarkan ke orang lain.
Langkah yang dilakukan Dinkes Kalteng, bertemu dengan kelompok sebaya penderita HIV/AIDS, didorong untuk berbicara mengenai dampak dari HIV/AIDS, cara ini lebih mudah untuk diterima karena yang menyampaikan adalah sesamanya tujuannya untuk orang yang positif atau terdiagnosa HIV/AIDS, kita coba untuk memproteksi sehingga tidak menyebar.
Positiv HIV/AIDS
Kasus HIV/AIDS di Kuala Kapuas dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Ditemukan 95 kasus HIV/AIDS dengan 25 orang telah meninggal dunia dan sempat ditangani medis. Demikian diterangkan Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas dr.Tonun melalui Kepala Bidang Penanganan dan Penanggulangan penyakit (P2P) yang juga Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kapuas dr. H.A.Haspiani kepada Tabengan, Rabu (7/12/22).
“Untuk penanganan pasien kasus HIV/AIDS, pihaknya telah menugaskan tim khusus yang tujuannya adalah untuk keamanan privacy,” kata Haspiani.
Menurut Haspiani, pada tahun 2021 ditemukan 82 kasus HIV/AIDS, dan pada tahun 2022 ditemukan tambahan 13 kasus sehingga menjadi 95 kasus atau orang. Dari ke semua rincian itu 25 orang positif telah meninggal dunia. Dan dari sisa 70 orang tersebut, 13 kasus statusnya droop out tanpa ada kabar dan 7 orang lagi melaporkan pindah domisili ke daerah lain, namun masih tetap melakukan pengobatan, sisanya masih terus ditangani dan melakukan pengobatan.
“Secara intens, tim medis kita yang ditugaskan menangani pasien penyakit HIV selalu memberikan pelayanan medis secara perlakukan khusus, selain selalu melakukan kunjungan penanganan medis dan juga sekaligus memberikan motivasi dan edukasi kepada para pasien, yang tujuanya agar mereka tidak merasa di kucilkan dan selalu berupaya untuk bisa sehat kembali,” katanya.
Menariknya, menurut Haspiani, dari temuan kasus pada tahun 2022 dengan jumlah 13 orang, salah satu kasus pasiennya suka dengan lawan sejenis (LSL), mengenai kasus ini sudah barang tentu menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi tim untuk dapat masuk ke beberapa komunitas dalam bersosialisasi akan dampak dan bahayanya apabila terserang penyakit HIV/AIDS.
“Kita mengimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Kapuas untuk dapat menghindari adanya penyakit HIV/AIDS, setidaknya dapat berprilaku positif dengan tidak melakukan sesuatu aktifitas seksualitas diluar nikah, terlebih menyimpang serta pergunakanlah pengaman seperti kondom, sebab faktor dan penyebab penularan adalah dari hubungan seksual, selain itu juga penularan bisa dari alat kesehatan transfusi darah,” kata Haspiani.
LSL Penyumbang Terbesar
Sementara itu, Sekretaris KPA Kalteng, Saidah Suryani menjelaskan, penyebaran HIV/AIDS di Kalteng sekarang ini tidak lagi hanya kaum Wanita Penjaja Seks (WPS) saja. Dulu, memang benar WPS menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam hal perilaku berisiko dalam penyebaran HIV/AIDS. Sekarang, justru yang paling berisiko adalah Lelaki Seks Lelaki (LSL), dimana LSL ini didominasi oleh kaum pelajar dan remaja. Ini artinya penyebaran HIV/AIDS sangat rentan dikelompokkan itu.
Berbicara persentase, urai Saidah, WPS hanya menyumbang hanya beberapa persen saja dalam penularan HIV/AIDS di Kalteng. Sementara itu, LSL menyumbang penyebaran mencapai 50 persen lebih. Kondisi lingkungan menjadi salah satu penyebab seseorang dapat menjadi LSL. Yang lain adalah heteroseksual. Pada kategori ini, terpapar memiliki istri dan anak atau sederhananya sudah berkeliaran, tapi masih memiliki ketertarikan kepada sejenis atau sesama.
Berkenaan dengan 600 orang yang terpapar HIV/AIDS di Palangka Raya, Saidah mengajak masyarakat Kalteng untuk dapat peduli akan masalah HIV/AIDS dan penyebarannya. Pemahaman yang salah, membuat stigma terhadap mereka yang terpapar HIV/AIDS menjadi salah, dan cenderung dijauhi. Hal itulah yang membuat mereka menjadi tertutup, sehingga akhirnya sukit dijangkau. ded/yml/c-yul











