Spirit Kalteng

Harapan Warga Tionghoa di Tahun Kelinci Air

35
×

Harapan Warga Tionghoa di Tahun Kelinci Air

Sebarkan artikel ini
Frans Martinus, Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Kalimantan Tengah

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Astrologi Tionghoa sudah ada sejak 2.000 tahun lebih dan telah memberikan peran terhadap budaya Tionghoa. Astrologi Tionghoa lebih kompleks bila dibandingkan dengan astrologi barat. Astrologi Tionghoa tidak hanya menggabungkan dua belas tanda yang ada di dalam astrologi Tionghoa, tetapi juga menggabungkan yin dan yang serta lima elemen yang ada pada astrologi Tionghoa.

Di Indonesia astrologi Tionghoa dikenal dengan shio. Istilah kata shio yang biasa didengar di Indonesia diambil dari lafal dialek Hokkian: sheshio, (Hanzi: 生肖, pinyin: shengxiao). Shio dalam budaya Tionghoa dipercaya dapat menentukan peruntungan yang dilihat berdasarkan dua belas tanda hewan yang mewakili setiap tahun.

“Jadi Imlek tahun ini merupakan tahun Kelinci Air, Kelinci dalam astrologi Tiongkok melambangkan kesabaran dan keberuntungan, yang berarti bahwa tahun kelinci ini membawa kedamaian dan kesuksesan,” ungkap Frans Martinus, Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Kalimantan Tengah, Rabu (18/1).

Hal positif yang bisa diambil dari shio ini adalah sebagai berikut, Kelinci memiliki sifat yang lembut, halus, lincah dan cerdas.

“Bagaimana cara memaknai shio kelinci air dalam menjalani hidup di Tahun Baru Imlek 2574 Kongzili nanti? Selalu semangat bekerja, cermat mengelola keuangan dan membatasi ekspansi bisnis. Di antara shio yang beruntung pada tahun baru imlek ini adalah Shio Macan, shio Kuda dan shio Babi. Ketiga shio ini keberuntungannya sangat baik terutama dalam pekerjaan dan keuangan,” imbuhnya.

Intisari hidup yang bisa diambil dari itu, kalau menurut astrologi China kelinci itu melambangkan harapan, kemakmuran, dan keberuntungan. Kelinci dikenal pandai mengatur keuangan, membawa banyak kekayaan, dan kemakmuran untuk aspek keuangan. Dalam mewujudkan filosofi tersebut

oramg Tionghoa akan menjalin relasi yang baik, berhemat, mau berbagi dan menjaga kesehatan dengan baik.

Selanjutnya, Pria yang memiliki panggilan Acung ini mengatakan kalau dikaitkan dengan ekonomi dan politik yang akan dihadapi tahun ini dan tahun depan, harapannya kondisi perekonomian bisa bangkit, politik relatif stabil dan daya beli masyarakat meningkat serta tidak ada gejolak politik yang berat.

Kemudian ditambahkan pulan budaya tertentu yang biasanya dilakukan warga Tionghoa dalam menyambut tahun baru Imlek, khususnya jika dipikirkan filosofi yang melekat dalam tahun baru adalah

Makan bersama keluarga dengan menu khusus, antara lain Siu mie yang melambangkan panjang umur, bahagia dan rejeki melimpah, Ayam / bebek, Ikan Bandeng, Kue keranjang, Sup 8 rasa dan berbagai jenis kue serta buah-buahan.

Selain itu, mengunjungi sanak saudara yang lebih tua, membagi angpao untuk anak-anak yang belum menikah.

Sebagai warga tionghoa dalam menyambut tahun baru harapannya kesehatan terjaga, pekerjaan lancar, situasi politik dan keamanan stabil, pemulihan ekonomi dapat berlangsung merata disemua bidang.

“Bersuka cita merayakan Imlek, pererat hubungan persaudaraan dan kekerabatan, bersyukur atas rahmat kesehatan serta masih mampu bertahan di situasi sulit karena pandemi,” ujarnya lagi.

Frans juga mengatakan masyarakat Tionghoa dalam mempersiapkan Imlek tahun ini sangat antusias, hanya saja karena Kota Palangka Raya merupakan kota transit, yang rata-rata warga Tionghoanya pendatang, semua merayakan Imlek di kampung kelahiran masing-masing.

“Mayoritas dari Banjarmasin, Kalbar, Surabaya, Medan, Jakarta, dll,” ucapnya. dsn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *