Fitria: Bisa Disebabkan Banyak Faktor
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Fenomena diobralnya 3.323 hotel secara online mulai dari harga 75 juta hingga Rp9 triliun memicu pengamat ekonomi Kalimantan Tengah, Fitria Husnatarina berkomentar.
Saat dikonfirmasi Tabengan, Rabu (15/2) Dosen Fakultas Ekonomi UPR menjelaskan, kasus ini jelas berkaitan dengan tata kelola perhotelan yang tidak sesuai. Artinya, bisnis yang harusnya bisa profitabel, justru menjadi non profitabel.
“Kalau membaca rujukan, faktor utamanya mungkin bisa saja masalah kredit. Namun menurut saya itu bukan faktor yang utama,” katanya.
Menurut Fitria, tidak semua hotel dan penginapan yang dijual murni karena ada permasalahan dengan kredit, sebab banyak bisnis perhotelan yang dibangun secara mandiri, tanpa kredit.
Terjadinya fenomena maraknya penjualan hotel dan penginapan bisa saja berkaitan pengelolaan bisnis hotel, atau masalah pemeliharaan bangunan maupun Sumber Daya Manusia.
“Kalau bisa bertahan, berapa lama bisa bertahan. Karena operasional tidak akan mungkin menunggu lama atau menunggu kondisi booming kembali hunian hotel,” imbuhnya.
“Artinya, kebangkitan saat ini yang akan dipakai sebagai tolak ukur boomingnya aktivitas pariwisata, justru berbanding terbalik dengan hunian hotel. Kondisi ini tidak hanya terjadi di wilayah Jakarta, Surabaya, namun juga beberapa tempat wisata lain seperti Bali. Meski mulai banyak didatangi wisatawan, dikunjungi, diminati, menjadi destinasi ‘wish list’ nya orang-orang untuk liburan, namun masih banyak sekali bertaburan info penginapan dan resort yang dijual,” tambahnya.
Sementara, Mantan Sekretaris PHRI Kalteng, M Yusuf Kawaru mengatakan kondisi lesu bisnis perhotelan cukup memprihatinkan. Namun ia tak memungkiri hal tersebut memang bisa terjadi pada bisnis apapun.
“Karena recovery time bagi pengusaha hotel sudah habis. Angsuran bank yang tertunda harus dibayarkan pada saat yang sama padahal bisnis masih belum 100 persen operated. Akibatnya pada panik lah,” tandasnya.dsn











