+Kebun Diserang, Coba Kabur, Mobil Karyawan Ditebas Mandau Berkali-kali
+Karyawan Trauma, Takut dan Sulit Tidur, Mengharap Perlindungan Polisi
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Trauma dan ketakutan kini masih dirasakan sejumlah karyawan dan masyarakat yang bekerja di kebun sawit di Desa Pelantaran, Kecamatan Cempaga Hulu, Kotawaringin Timur.
Pasca aksi penyerangan oleh massa bayaran yang diduga dipimpin Hok Kim pada Rabu (8/2) lalu, beberapa karyawan bahkan kesulitan untuk tiduran lantaran trauma yang membekas.
Seperti yang kini dirasakan Hendra. Petugas keamanan kebun ini mengaku jika pasca penyerangan tersebut ia bahkan kesulitan tidur sendiri.
“Jujur demi Tuhan, saya trauma. Bahkan takut jika tidur sendiri,” aku Hendra saat ditemui Tabengan, Rabu (15/2).
Ia pun menceritakan kembali detik-detik suasana mencekam tersebut. Saat itu sedang berada di kamar mandi untuk bersiap mandi. Tak berapa lama tiba-tiba dipanggil oleh Ketua RT Arbani yang mengatakan jika Acen alias Hok Kim dan massanya datang ke kebun.
Ia yang mendengar itu pun segera keluar dan mengurungkan niatnya mandi. Saat keluar, sirene mobil segera terdengar dari salah satu mobil yang dipakai massa. Seketika situasi panik terjadi dan ia pun segera berupaya menyelamatkan diri menggunakan mobil dengan turut serta membawa sejumlah karyawan wanita.
Nahas, upaya melarikan diri mendapat hadangan oleh Hok Kim menggunakan mobilnya. Hendra yang kepepet, kemudian mundur dan berbelok kanan, lalu kembali maju menuju portal.
Mobil ternyata kembali dihadang oleh massa yang kemudian bertindak anarkis dengan menyabetkan senjata tajam jenis samurai dan mandau ke arah mobil.
“Mobil kami diserang saat menerobos massa. Beruntung kaca mobil sudah kami naikkan, kalau tidak mungkin banyak yang luka kena sajam,” tuturnya.
Usai berhasil keluar dari kebun, Hendra lalu menyelamatkan diri ke rumah ketua RT. Lalu menghubungi Kapolsek untuk meminta pengawalan guna melakukan laporan.
Karena tidak mendapat izin untuk dikawal, pihaknya lalu menghubungi Ketua DAD Kotim Untung untuk mendampingi ke Polsek Cempaga Hulu guna melapor.
Tidak Ditanggapi Serius
“Sesampainya di Polsek kami cuma ditanyain saja. Lalu petugas polisi permisi ke belakang dengan alasan koordinasi dengan Kapolsek. Tak berapa lama KTP kami diminta, kemudian dengan alasan Personel Polsek yang sedikit, laporan kami tidak diterima dan diarahkan ke Polres Kotim,” jelasnya.
Hendra menambahkan, pihaknya pun segera mendatangi Polres Kotim dan tiba sekitar pukul 03.30 WIB. Kejanggalan kembali ditemui ketika petugas Polres Kotim menyebut jika aksi penyerangan dan pengancaman dengan mengacungkan senjata tajam jenis mandau, samurai dan parang tidak terbukti dan tidak masuk dalam UU Darurat.
“Kami melapor masalah penyerangan, namun tidak ditanggapi serius dengan berbagai bukti yang sudah dibawa. Sedangkan ketika Ketua RT Arbani memukul mobil pihak Hok Kim menggunakan tangan kosong segera diproses dan laporannya telah masuk di Polres Kotim,” ungkapnya.
Peristiwa tersebut diamini oleh Arbani selaku Ketua RT 08 RW 4. Saat itu ia bermaksud pulang dari kebun, namun ketika melihat massa datang, ia segera berbalik arah dan kembali mendatangi Hendra.
Setelah itu bermaksud pulang dan dihadang oleh ratusan massa yang telah mengeluarkan sajamnya tanpa sarung. Nyawanya terselamatkan setelah dua personel kepolisian menghadang aksi massa untuk menyerangnya.
“Saya saat itu hendak diserang pakai sajam. Kami bingung kok bisa Acen alias Hok Kim ini kebal hukum. Bawa massa dalam rangka apa, kemudian bertindak anarkis. Kami sesalkan tindakan seperti itu mau perang dengan bawa senjata tajam. Kami ingin setiap warga negara mendapat keadilan,” harapnya.
Selepas penyerangan itu, saat ini situasi desa sangat resah dan ketakutan, khususnya masyarakat dan karyawan yang dekat dengan lokasi kebun.
“Kami hanya minta keadilan. Kita ini negara hukum,” tuturnya.
Karyawan Trauma
Aksi penyerangan oleh ratusan massa bayaran Hok Kim nyatanya masih berbekas bagi para tiga karyawan wanita yang saat itu turut ikut menyelamatkan diri bersama Hendra.
Raminiasi (37) menuturkan jika saat kejadian berasal di dalam mess karyawan dengan aktivitas ngobrol, mandi dan bersiap-siap karena baru selesai bekerja. Habis itu mendapat informasi jika Hok Kim mau ke kebun.
“Kiranya cuma buat main ke kebun. Jadi santai. Pas rombongannya masuk dan ada suara sirene, saya langsung menyelamatkan berkas dan lari sambil menghubungi Sugianto, humas kebun,” tuturnya.
Ia pun berharap jika permasalahan ini cepat selesai karena dirinya hanya mencari sesuap nasi di kebun tersebut.
“Saya sangat trauma, apalagi ketika mobil yang kami naikindi tebas berkali-kali menggunakan Sajam oleh massa. Seperti Mandau itu mengenai badan kami saja..mata mereka (massa) merah seperti orang mabuk,” terangnya.
Senada, Popi (23) karyawan kerani menerangkan setelah mendapat informasi itu segera berlari ke kantor untuk menyelamatkan berkas-berkas dan masuk ke dalam mobil.
“Sebagian berkas berhasil kami selamatkan,” terangnya.
Terakhir Yensi (23) karyawan kerani menyebutkan jika ia adalah saksi hidup dimana Hok Kim memerintahkan massa untuk mendobrak pintu mess dan kantor karena tidak bisa dibuka menggunakan Sajam.
Kejadian tersebut ia alami ketika mencoba menyelamatkan berkas-berkas kebun. Setelah bertemu Hok Kim, KTP nya pun diminta.
Ia mengungkapkan setelah sirene dihidupkan oleh massa, banyak karyawan yang lari ketakutan dan masuk ke dalam kebun sawit di tengah gelapnya malam. Banyak terdengar suara tangisan dari para karyawan dan juga anak-anak yang dibawa lari oleh orangtuanya untuk menyelamatkan diri.
“Banyak karyawan yang luka karena lari di tengah gelapnya malam, mereka kena paku, duri dan kaca. Kami masih takut kemana-mana. Seperti ayam yang ditinggal induknya. Trauma. Mau ngerjain apa jadinya bingung. Kami cuma berharap yang bikin rusuh segera ditangkap dan keadilan bisa ditegakkan bagi kami yang memang bekerja untuk sesuap nasi,” pungkasnya.
Sebelumnya, terkait dugaan adanya penolakan laporan masyarakat Pelantaran dan penyerangan tersebut, Kapolres Kotim AKBP Sarpani yang dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp membantah dan menyebut tidak ada penolakan.
“Agar yang bersangkutan datang ke Polres Kotim. Polres Kotim akan melayani semua laporan dan pengaduan,” ucapnya singkat. fwa











