+Muncul Isu Gerakan Anti Koyem (GAK) dan Penurunan Ketua Fraksi
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID-Terkait pelaporan tersebut, pihak DPD Partai Demokrat Kalteng merespon secara langsung kepada awak media.
Sekretaris DPD Partai Demokrat Djunaidi menuturkan, pihaknya menafsirkan dan menelaah obrolan chat WA antara Sriosako dan Nadalsyah, tidak ada sedikit pun kata-kata yang mengarah pada perbuatan tidak menyenangkan. Justru, ujar dia, kalimat yang mengancam itu malah datang dari Sriosako.
“Sebenarnya apa yang menjadi jawaban Nadalsyah sendiri di obrolan chat tersebut, dikarenakan pernyataan-pernyataan Sriosako di luar. Karena ketika bertemu dengan siapa saja, Sriosako selalu mengeluarkan kata- kata yang menyudutkan bahkan memprovokasi,” ujarnya.
Bahkan, ujarnya, apabila memang hal ini, khususnya pelaporan itu malah mengarah pada pencemaran nama baik, maka pihaknya akan melaporkan hal tersebut juga secara proporsional. Selain itu yang terpenting adalah bagaimana bisa dilaksanakan mediasi, sementara Sriosako sendiri melakukan pelaporan, sehingga mau tidak mau, klarifikasinya juga di kepolisian.
Menyangkut jabatan maupun hal terkait caleg di Partai Demokrat, dirinya menilai tidak akan mencampur adukkan masalah tersebut dengan partai. Artinya ada porsinya tersendiri untuk hal tersebut.
Terkait itu Wakil Sekretaris DPD Partai Demokrat Kalteng M Faisal menuturkan, ada beberapa Ketua DPC yang menyampaikan pernyataan Sriosako terkait.
“Kepada saya juga ada, yang mana intinya adalah saya akan membuat Gerakan Anti Koyem (GAK). Dan saya dituding punya andil menurunkan dia sebagai ketua fraksi,” jelasnya.
Hal ini, ujarnya, seperti penurunan sebagai Ketua Fraksi tampaknya membuat Sriosako tidak suka dengan keputusan tersebut. Selain itu, Ketua Bappilu Edy Rustian juga melihat bahwa Ketua DPD Partai Demokrat Kalteng bukan orang yang seperti dinyatakan Sriosako.
“Jauh sekali dari pribadi seorang Nadalsyah, dari capture obrolan chat yang kami lihat, tidak ada di situ pengancaman, bahkan ajakan dari Nadalsyah untuk berkelahi. Malah justru mengajak bertemu dan berbicara empat mata dalam menyelesaikan masalah,” ujarnya.
Tapi kenapa, ujarnya, tafsirannya malah dibalas dengan kalimat sampai mati saja. Hal ini yang dinilai kurang etis, bahkan juga bersifat memprovokasi. drn











